Jumat, 16 Mei 2014

DELAPAN HAL SEPELE YANG SEBENARNYA MENGGANGGU (2)

5. Bicara Tidak pada Tempatnya



Kita sedang asyik mengikuti sebuah forum, atau sedang serius-seriusnya mendengarkan materi dari guru/ dosen. Eh, dari sudut lain, terdengar obrolan-obrolan yang kemudian berdengung di penjuru ruangan. Si ini ngobrol sama si itu, yang di sini ketawa-ketiwi sama yang di situ.... Alhasil, suasana ruangan jadi kek tempat beradu suara. Fokus kita jadi terpecah, nggak jelas antara mau dengerin materi, atau mendengar seliweran suara dari orang lain. Duh, geregetan banget ya?

Kalau ingin mengobrol di dalam forum, ada baiknya jangan sampai mengganggu orang lain. Bisa kok, ngobrolnya sambil bisik-bisik aja. Atau pakai tulisan di kertas, atau sms.... Banyak lah, alternatif lain yang bisa digunakan untuk berkomunikasi.

Eeh... bukan berarti kemudian saya mendukung mereka yang suka 'bikin forum di dalam forum' loh ya? Maksudnya, memang adalakanya, kita memiliki suatu informasi atau berita yang penting sekali untuk disampaikan. Makanya, saya sarankan untuk menggunakan cara di atas. Kalau obrolannya jelas-jelas nggak penting, ya buat apa? Mending fokus ke materi forum. Rugi dong ya, kalau kita nggak mendengarkan apa yang disampaikan. Iya toh? :)
----------

6. Sedikit-Sedikit Mengeluh



Mengeluh sedikit itu wajar, namanya juga manusia; adaaa aja cobaannya. Tapi, kalau sedikit-sedikit mengeluh?

"Huuffhh...hari ini panas banget, sih... Mana nggak bawa payung, lagi. Duit tinggal gopek, mau naik angkot juga nggak bisa.... Mau beli es nggak nyukup... Aduuh, keringetaaan!! Basah semua, nih badan gue. Nggak ada yang mau nebengin ya?! Ya ampuun... bedakku luntuuurr...!!"

Dari ocehan di atas, kalimat mana yang menyiratkan rasa syukur? Jawabannya, nggak ada! Semua yang dialami, ia keluhkan sambil bersungut-sungut. Sebelnya lagi, semua itu dia umbar ke orang-orang, baik yang dia kenal maupun enggak. Serasa kena semprot ya?

Apa yang akan kamu lakukan jika di dekatmu ada orang semacam ini? Wedew... mendingan jauh-jauh deh. Orang yang gampang mengeluh, nggak bisa sedikit aja kesentuh hidup susah. Nggak mau ribet, nggak mau ada tantangan. Pengennya hidup yang serba selow dan 'baik-baik saja'. Nggak berani keluar dari zona nyaman.

Guys, daripada banyak mengeluh dan bikin sakit telinga orang, mendingan banyak-banyak bersyukur, deh. Mengeluh itu wajar, tapi kalau berlebihan juga nggak baik buat diri kita dan orang lain. Ingat lho, barang siapa bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah nikmat yang dianugerahkan pada diri hamba tersebut, dan barangsiapa yang kufur, sesungguhnya adzab Allah itu amatlah pedih.
----------

7. Berdecap-decap Saat Makan
Teman, jika sedang mengunyah makanan, usahkan agar bibirmu tetap mengatup. Berdecap-decap saat makan dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang-orang di sekitar, apalagi kalau sedang makan bersama. Mulut yang berbunyi, bisa jadi membuat orang lain kehilangan selera makan mereka. Jadi, tetap katupkan mulut ya?
----------

8. Bersuara Terlalu Keras atau Terlalu Lembut
Gimana rasanya, andaikata kita ngajak ngobrol seseorang, dan dia menyahut setiap ucapan kita dengan suara melengking padahal kita ada di dekatnya? Uih, bikin telinga berdenging sakit.

Selama bisa bersuara dengan frekuensi yang normal, kenapa harus teriak-teriak? Apalagi jika lengkingan itu cuma dibuat-buat. Kesannya jadi kurang sopan dan nggak enak didengar.

Ada juga, orang yang sengaja melembut-lembutkan suara saat berbicara. Bersuara lembut, apalagi bagi wanita, memang menjadi hal yang wajar. Bahkan, wanita yang bersuara lembut biasanya identik dengan sifat manis keibuan dan penuh kasih sayang. Tapi... ups, kalau lembutnya sampai mendayu-dayu dan ada kesan menggoda non-mahram, duh... enggak la yaw! Na'udzubillah min dzalik... Bisa jadi, mereka yang non-mahram senang-senang saja. Tapi untuk sesama wanita, percaya deh, ini tuh bikin gedek banget serasa pengen nguyel-uyel tuh orang.

Jadi, --agak khusus buat perempuan, sih-- jaga suaramu ya, teman? Yang normal-normal aja kalau bicara. Tentunya, nada bicara yang normal akan lebih enak didengar lawan bicaramu.
----------

Yup, itu tadi delapan hal sepele yang sebenarnya bisa mengganggu. Memang ya, yang sepele-sepele itu nggak bisa seenaknya kita abaikan. Walaupun kelihatannya remeh, kalau bikin nggak nyaman, ya mending dihindari aja.
Ada yang ingin menambahkan? :)

8 HAL SEPELE YANG SEBENARNYA MENGGANGGU

Tahukah, guys? Hal-hal di bawah ini, mungkin kelihatannya sepele saja jika dilakukan. Nggak banyak merugikan orang lain, dan mungkin orang-orang juga nggak akan protes jika kita melakukannya. Tapi... ups! Perlu kalian perhatikan, nih.

Walaupun mungkin kelihatannya sepele, dan orang-orang juga nggak protes dengan sikap kita, bukan berarti hal-hal di bawah ini menjadi sah-sah saja untuk dilakukan. Nggak diprotes, bukan selalu berarti ‘boleh’, lho ya? Bisa jadi karena enggan menegur, kesal dan mengumpat dalam hati, atau diam-diam membicarakan si subjek dari belakang. Waduh, kalau sudah begini, jangan sampai deh, kita menyepelekan hal-hal kecil yang kenyataannya menyakitkan buat orang lain.

Apa aja sih, hal-hal sepele yang kurang menyenangkan itu? Nah, di sini, saya akan merangkum delapan hal sepele yang sebenarnya mengganggu. Apa saja itu? Yuk, check this out!
----------

1. Buang Sampah Sembarangan



Sering nggak sih, lihat lingkungan yang nggak sedap banget dipandang mata, gara-gara sampah yang bertebaran dimana-mana? Sampah yang menumpuk, selain nggak sedap dipandang mata, juga dapat menimbulkan bau yang nggak sedap, bahkan menularkan kuman penyebab penyakit.
Seringkali, orang menyepelekan sampah kecil dan melemparkannya begitu saja sesuka hatinya. Padahal, bisa jadi tempat sampah ada di dekat dia. Begitu sadar ada tempat sampah, eeh, bukannya diambil lagi trus dibuang ke situ, malah dibiarin! Ckckck....


Coba bayangkan. Jika setiap orang menganggap remeh satu bungkus permen saja, dan semua orang memiliki jalan pikiran yang sama. Akan seperti apa jadinya tumpukan sampah yang menggunung itu? Ini nggak bisa dianggap sepele, lho. Jika semuanya memandang remeh perihal membuang sampah sembarangan, wuah... bisa gawat, nih bumi kita.


Makanya, kalau belum menemukan tempat sampah, pegang saja dulu, atau taruh di saku. Begitu nemu tempatnya, buanglah di situ. Wah... hebatnya jika setiap orang mau melakukannya. Yuk, kita mulai dari diri kita sendiri. Biasakan membuang sampah pada tempatnya. J
----------

2. Corat-Coret Sembarangan



Seringkali kita dapati –nggak di sekolah, di kampus, di jalanan... banyak lah!– coretan-coretan nggak penting dan nggak jelas yang merusak pemandangan. Yang isi coretannya, paling seputar umpatan, cacian, contekan, kata-kata galau, support buat klub sepak bola ini dan itu, gambar-gambar rak nggenah, dan berbagai macam coretan yang... aduh, simpelnya saya katakan, nggilani!


Akibatnya, tembok-tembok jadi penuh dengan coretan, meja-kursi penuh goresan Tip-X, lingkungan jadi nggak sedap dipandang mata. Kesannya jadi kotor dan nggak terawat. Mending sih, kalau grafitti-nya bagus, dan malah sudah dinyatakan legal atau sah untuk membuat coretan itu (ada loh, yang sudah dapat perizinan, dan tentulah gambarnya nggak sekedar gambar abal-abal tanpa estetika, wedeuh....). Tapi kalau yang asal semprot, asal gores, asal gambar? Bahkan, ada pula yang meja-kursinya sampai disayat-sayat pakai cutter. Kalau ditanya alasannya, apa jawabnya? "Iseng aja". Wah wah wah... nggak etis, deu!


Kalau alasannya cuma iseng, mending corat-coret di kertas aja. Ingat, lingkungan itu milik kita bersama, lho. Jadi, harus senantiasa dijaga dan bukan malah merusaknya.
----------

3. Ditunggu tapi Lelet
Pernah mengalami kejadian seperti ini?
Kamu lagi naik angkot. Ceritanya udah buru-buru banget tuh, mau ada acara. Nah, di tengah-tengah perjalanan, angkot berhenti. Ada calon penumpang yang udah dilambai-lambaiin sama bapak angkotnya. Si calon penumpang tidak mengangguk atau menggeleng, tapi tetap berjalan mendekat. Tapiii... subhanallah... jarak antara calon penumpang dan angkot masih 100 meter lagi, dan si calon penumpang jalannya aluuuuuuss banget. Kayak nggak sadar kalau lagi ditungguin. Hadeeeh... kalau udah gini sih, bikin gedek banget namanya.

Kalau kejadiannya kayak gitu, dan andaikan posisimu adalah sebagai si calon penumpang, ada beberapa tips dan saran yang ingin saya bagikan. Jika jarak antara kamu dan angkotnya masih jauh, usahakan untuk mempercepat langkah. Jika perlu, setengah berlari. Ini menunjukkan kalau kamu menghargai kebutuhan orang lain di dalam angkot, andaikata ternyata mereka sedang terburu-buru.

Atau, kalau kamu pengennya jalan dengan santai, sebaiknya gelengkan saja kepalamu saat bapak angkot melambaikan tangannya. Artinya, tolak saja angkot yang itu dan tunggulah angkot berikutnya. Dengan begini, kita nggak akan membuat orang lain menunggu dan diam-diam menggerutu ngrasani kita. Setuju...?
----------

4. Menyeret Langkah Kaki
Simpel aja. Menyeret langkah kaki, apalagi di atas tanah atau pasir, apalagi pakai alas sepatu, itu tuh rasanya... aduh, bikin geli telinga. Rasa gelinya tuh, geli-geli risih gitu. Tiap bunyi srak-srek yang dihasilkan saat sandal/ sepatu yang dipakai bergesekan dengan tanah, akan terasa mengganggu dan 'menyakitkan' di telinga.

So, kalau jalan kaki, lebih baik kakinya diangkat saja. Usahakan untuk tidak menyeretnya, kasihan orang lain yang mendengarnya. Oke? ;)

----------
=>>> next =>>

Senin, 14 April 2014

CIRI-CIRI KARANGAN ILMIAH


Karangan ilmiah adalah karangan yang dibuat dengan berdasarkan pada fakta umum, bersifat objektif (tidak memihak), dan ditulis menggunakan metode penulisan yang benar.

Ciri-Ciri Karangan Ilmiah

1. Sistematis
Artinya, harus dituliskan berdasarkan urutan yang benar. Misal : jika kita ingin menyusun sebuah makalah, maka sistematika penulisannya adalah : 
 1. halaman judul
 2. kata pengantar
 3. daftar isi
 4. pendahuluan (meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan)
 5. pembahasan
 6. penutup (berupa simpulan dan saran), dan 
 7. daftar pustaka.
Urutan tersebut tidak boleh sembarangan diacak-acak. Oleh karena itu, penting untuk menyusun karangan ilmiah secara sistematis.

2. Objektif
Tidak boleh memihak pada apa yang dituliskan di dalam karangan ilmiah. Penulis karangan ilmiah harus menjadi pihak yang netral, walaupun mungkin kenyataannya, dia menyukai sesuatu dari objek penelitiannya.
Misalnya, saya meneliti tentang produk kecantikan X. Kebetulan, saya sendiri memakai produk X dalam keseharian saya. Adalah salah jika kemudian saya tulis: "X adalah produk kecantikan yang telah mendunia. Banyak wanita yang memilih X sebagai kosmetik sehari-hari mereka. X terbukti ampuh mencerahkan kulit dan memancarkan kecantikan... bla bla bla....". (walah!)

3. Cermat, Tepat, dan Benar
Harus sesuai dengan fakta, tidak dikarang-karang atau ditambah-tambahi sendiri. Harus sesuai dengan kenyataan yang ada.

4. Tidak Persuasif
Tidak menggunakan bahasa iklan. Sebuah karangan ilmiah tidak diperkenankan menggunakan bahasa yang persuasif, atau yang mempengaruhi pembacanya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Contoh : (lihat di poin nomer 2 di atas).

5. Tidak Argumentatif
Hindari penggunaan kata seperti 'mungkin', 'menurut penulis', 'barangkali', 'sepertinya', 'kalau tidak salah'... dsb. Karena, kata-kata semacam ini menunjukkan keragu-raguan. Padahal, karangan ilmiah membutuhkan fakta yang meyakinkan.

6. Tidak Emotif
Penulis karangan ilmiah tidak diperkenankan menggunakan kalimat seperti "menurut pengalaman penulis....", atau kalimat-kalimat yang menjurus pada bahasa 'dear diary' (bahasa curhat).

7. Non-Profit Oriented
Tidak berorientasi pada pencarian keuntungan. Menulis karya ilmiah bukan karena mengincar uang/ penghasilan.

8. Tidak Hiperbolis
Tidak perlu menggunakan bahasa yang alay melebay (hiperbola).


Semoga bermanfaat! :)

________________________

Minggu, 06 April 2014

MENGENAL WUJUD SINONIM


Sinonim atau persamaan kata, ternyata nggak sesimpel yang kita pelajari di bangku sekolah, lho. Bukan sekedar bermakna "dua kata atau lebih yang memiliki arti yang sama", melainkan ada penjabaran lain yang membuat sinonim memiliki banyak ragam.
Apa saja ya, macam-macam sinonim itu? Berikut penjelasannya.

1. Sinonim antar morfem*) bebas dan morfem terikat
Contoh -> buku dia : bukunya
(dia = morfem bebas,  “—nya” = morfem terikat)
Contoh lain -> ayah kamu : ayahmu,  aku bawa : kubawa,  untuk aku : untukku, dsb.

*) Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna, tidak dapat dipecah jadi lebih kecil lagi, yang merupakan bagian pembentuk kata, frase, klausa, dan kalimat. Mirip-mirip dengan kata, tapi sebenarnya berbeda.
Kalau “dia” bisa disebut sebagai kata maupun morfem, kalau “—nya”  nggak bisa disebut kata, melainkan disebut morfem.
Contoh lain : merasa -> 1 kata, 2 morfem (me + rasa) ; dipilih -> 1 kata, 2 morfem (di + pilih)... dsb.


2. Sinonim kata dengan kata
Contoh -> baik : bagus,  nyaris : hampir,  semua : seluruh,  senang : bahagia... dst.


3. Sinonim kata dengan frasa
Contoh -> besar kepala : sombong,  rendah diri : minder,  kepala dingin : tenang... dsb.


4. Sinonim frasa dengan frasa
Contoh -> tinggi hati : besar kepala, merah jambu : merah muda, keras kepala : kepala batu... dst.


5. Sinonim kalimat dengan kalimat
Contoh -> Kakak mencubit Adik : Adik dicubit Kakak,  Rini makan roti : roti dimakan Rini... dst.


Ayoo... coba berlatih dengan mencari contoh lainnya. Selamat mencoba! J
_______________________


Kunjungi juga -> Mengenal Macam-Macam Antonim atau Oposisi

MENGENAL MACAM-MACAM ANTONIM ATAU OPOSISI



Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar sampai SLTA, yang diajarkan guru-guru kita tentang antonim hanya sebatas “antonim=lawan kata”. Misal : gelap lawan katanya terang, tua lawan katanya muda, kurus lawan katanya gemuk, dan seterusnya.

Ternyata, pembahasan tentang antonim nggak sesederhana itu, loh. Karena antonim terbagi dalam beberapa sifat.

Antonim, selain disebut perlawanan kata, nama lainnya adalah oposisi. Nah, ada berapa macam sih, oposisi itu? Yuk kita simak! Cekidot! ;)


1. Oposisi Mutlak
Oposisi mutlak adalah oposisi yang bersifat ‘ya’ atau ‘tidak. Pertentangan maknanya bersifat mutlak. Artinya, jika salah satunya berlaku, maka yang lain tidak berlaku.
Contoh : hidup >< mati
Orang kalau nggak hidup, disebut mati. Kalau nggak mati, disebut hidup. Kalau mati suri? Ya tetep aja itu namanya mati, walaupun kemudian hidup lagi. :D

Contoh lainnya adalah laki-laki >< perempuan. Walaupun dia waria, tetap saja dia laki-laki. Walaupun tomboy, ya sejatinya dia perempuan.


2.  Oposisi Kutub/ Oposisi Polar
Oposisi kutub atau oposisi polar adalah oposisi yang tidak terdapat pertentangan mutlak di dalamnya. Oposisi ini bersifat gradasi. Artinya, ada tingkatan makna pada kata (seperti ‘agak’, ‘sangat’,... dsb)
Contoh : panjang >< pendek

Kita nggak tahu yang disebut ‘panjang’ itu yang ukurannya seberapa, begitupun dengan yang pendek. Bisa saja kita katakan “sangat panjang >< sangat pendek”, “agak panjang >< agak pendek”, “sangat panjang >< agak pendek”, “agak panjang >< sangat pendek”... dst.

Contoh lainnya seperti : luas >< sempit, besar >< kecil, bagus >< jelek, rajin >< malas, kotor >< bersih,... dst.


3. Oposisi Relasional
Oposisi relasional menunjukkan bahwa sebuah kata hadir karena adanya kata lain.
Contoh : penjual >< pembeli
Adanya’penjual’ karena ada ‘pembeli’.

Contoh lain : murid ><guru, dosen >< mahasiswa, suami ><istri, dsb.


4. Oposisi Majemuk
Oposisi Majemuk adalah oposisi yang mempunyai banyak anggota ; alternatifnya lebih dari satu.
Contoh :berdiri >< duduk (?)

Belum tentu. Bisa saja berdiri >< berbaring, atau berdiri >< jongkok, atau berlawanan dengan tiarap, tengkurap, sujud, dst.

Contoh lain : menangis >< tertawa, tersenyum, nyengir,... dsb.

_____________________


Kunjungi juga ->  Mengenal Wujud Sinonim

Nah, cobalah berlatih dengan mencari contoh dari keempat oposisi di atas. Selamat mencoba! =)

Senin, 17 Maret 2014

MENGELOMPOKKAN KALIMAT FAKTA DAN OPINI DALAM TEKS BERITA

Membedakan mana kalimat fakta dan mana kalimat opini, memang gampang-gampang susah. Apalagi kalau yang diteliti adalah teks berita. Jadi, bagaimana cara membedakannya?


Sebelum masuk ke pembahasan tentang cara mengelompokkan kalimat __apakah masuk fakta ataukah opini__ saya akan menjelaskan tentang pengertian, apa itu fakta dan apa itu opini.



1. Fakta

Fakta adalah peristiwa atau keadaan yang benar-benar terjadi (kenyataan).

Contoh : Nama orangtua Qonita adalah Bapak Muslimin dan Ibu Zulaekhah.

Ini adalah kalimat fakta, kalau 'Qonita' yang dimaksud adalah saya, haha...! Dan kalimat ini bisa dibuktikan kebenarannya.



2. Opini

Opini disebut juga pendapat. Simpelnya, opini adalah hasil pemikiran seseorang yang belum tentu benar adanya.


Contoh :- Mungkin nanti sore hujan.

- Dia gadis yang sangat baik.

Dua kalimat di atas disebut opini karena belum dapat dilihat kebenarannya, dan hanya diucapkan untuk mengutarakan pendapat tentang sesuatu.


Kata-kata yang mengindikasikan bahwa suatu kalimat dapat disebut opini antara lain : 'mungkin', 'akan', 'sebaiknya', 'sangat', dan sebagainya. Tapi, bukan berarti setiap kalimat opini pasti mengandung kata-kata di atas. Hal ini akan lebih sulit didapati dalam suatu teks berita.



Nah, yang penting, kan ilmu dasarnya sudah tahu. Yuk, kita korek-korek contoh kalimat berita yang ada di bawah ini.


1. Selesainya putaran pertama babak 12 besar Divisi Utama Liga Indonesia menyuguhkan satu fakta bahwa belum ada satupun tim yang lolos ke babak semi final.


~Ini jelas kalimat fakta~


2. Persaingan setiap grup di babak 12 besar masih sangat ketat.

~Seketat apa sih? Ini namanya opini~


3. Jika keajaiban terjadi, Mahesa Jenar bahkan bisa menjadi juara grup.

~Kelihatan kalau ini adalah opini~


4. Tiga pertandingan dilalui dan gawang Mahesa Jenar selalu kebobolan lebih dari satu gol.

~Fakta. Ini sudah terjadi~


5. Di putaran kedua, Morris sudah bebas dari kartu.

~Fakta~


6. Ia menegaskan, evaluasi selalu dilakukan secara menyeluruh.

~Apa iya 'selalu'? Ini kalimat opini~


Nah, selamat berlatih! :)


[sumber berita : Koran Tribun Jateng, Agustus 2013]

Sabtu, 15 Maret 2014

SBMPTN : The Last Day

<<< episode sebelumnya

Episode 3
“Laper ik. Dari tadi siang belum makan,” keluhku sambil main hape. Waktu udah nunjukin pukul tujuh malam. Fida dan Vina sependapat.
“Yuk, keluar cari makan yuk?”
“Yuuk...!” kita hayuk-hayukan.
Setelah ngeberesin kamar kosan dan pake jilbab, kita pergi nyari makan.

Wew, kali ini kita makan sama teman-teman yang lain. Jadi rame-rame datang ke rumah makan SBC... (ups, eh! Malah nyebut merk. Sensor wae ah, tuuutt). Jadi kek perkumpulan alumni gitu, jiaah ~padahal wonge 6 tok, hmh, okefine~

Hh... Semarang malam indah sekali. Seneng banget bisa menikmati malam di luar kota. Alasannya pun keren : tes SBMPTN. Wuahh...soswit-soswit gimanaa gitu! ~alay deh~
_________________
Balik dari SB(tuuutt), kita ke kosan dan belajar lagi. Malam semakin larut. Kami bertiga membuat janji.
“Entar tahajjud yuk!”
“Ayuk!”

Sekitar tengah malam....
Alarm di hape Fina memekik nyaring, membangunkan kami dari tidur. Walau masih setengah nahan kantuk, kami tetap bangun juga. Sholat tahajjud.

Dalam sujud, aku memohon pertolongan Allah supaya dimudahkan dalam tes. Supaya usahaku selama ini tidak sia-sia. Supaya keberangkatanku ke Semarang membuahkan hasil, dan kembali dengan tangan penuh (lawannya tangan hampa, yo po rak?). Pokoknya, semua urusanku udah kupasrahin sama Allah. Aku tinggal usaha, dan hasilnya, Dia-lah yang menentukan.
Allohumma yassir lanaa fil imtihaan....
_________________

Hari kedua.
Berbeda dari hari pertama yang tesnya pagi, hari kedua ini agak siangan dikit. Sekitar jam 10-an, lah.Jadi bisa selow sarapan dulu (hari kemarin kagak sempat sarapan. Kebayang, kan gimana nggak enaknya? Udah perut laper, pikiran diunyel-unyel sama puluhan soal tes, ruangan yang dinginnya minta ampun... hhh).
Ternyata, soal Tes Kemampuan SOSHUM itu nggak lebih mudah dari TPA maupun TKDU. Susah! Soalnya kayak Reading Comprehension gitu, jadi ada bacaannya dikit, trus di bawahnya ada soal-soalnya. Yang bikin gemes tuh, bacaannya apaa... soalnya apa. Nggak nyambung, nggak ada di bacaan (yaeyalah, kalau ada di bacaan mah tinggal nyontek). Bikin mumet tenan. Tapi bismillah aja deh. Allah yang bakal kasih kemudahan. Aamiin.
_________________

Yeeyeeyee... akhirnya. Setelah berpusing-pusing ria ngerja’in soal yang bikin mata sepat, inilah klimaks-nya. It’s time to baaack...!!

Aku, Fida ma Vina balik ke kosan siang itu. Beres-beres. Mau balik ke Kudus. Hh... padahal baru tiga hari-dua malam di Semarang, tapi rasanya udah kangen aja sama kasur di Kudus (loh?).

Kami bertiga sholat Dzuhur dulu di kosan, dijama’ sama Ashar. Abis sholat, Kak Noval udah stand by di depan mobil yang diparkir di luar pagar kosan.
Sebelum balik ke Kudus... yaa biasalah, namanya juga anak muda. Narsis sek le wes. Yo ah, poto-poto duluu...
Ckrik! Kita foto di depan kosan, yang menjadi saksi kalau kita pernah ke sini dan berjuang bersama. Haih... mellow dah.
_________________

Satu persatu teman-teman dijemput. Setelah semuanya berkumpul di dalam mobil, kita lantas hunting makanan buat makan siang. Warung makan bakso jadi pilihan.

Eeh, malah ketemu sama ‘makhluk asing’ bernama Allice... e-e-eh, ampun, jeung! ~kena manyun Jeng Allice~ Dia temennya Fida. Kebetulan juga ikut tes SBMPTN di Undip. Kenalan deh sama kita-kita. Makan bakso bareng. Pulangnya –karena sebelumnya juga udah janjian sama Fida– juga bareng sama kita.Dia tinggal di Demak (seingatku, sih), searah sama Kota Kudus. Jadi sekalian, deh.

Pokoknya hari itu seru banget. Habis makan-makan, mampir ke toko buku Gramedia Semarang. Beli buku. Asik, dapat bacaan baru. Aku beli bukunya Bang Bena ‘Kribo’. Bagus banget.
Menjelang maghrib, mampir sholat ke masjid. Habis itu ngelanjutin perjalanan. Hah,seru bingit. Di mobil ngobrol banyak sama temen-temen. Rame gitu. Pada seneng udah nyelesaiin ‘tantangan’ tes SBMPTN. Leganya....
_________________

Akhir perjalanan ini, aku dijemput sama abangku di rumah Fida. Udah malem banget. Kita naik motor. Brr... anginnya... dingin! Mana tas di gendongan berat banget pula.
Alhamdulillah.... banyak dari kami yang akhirnya bisa kuliah, walaupun di tempat yang berbeda-beda. Masing-masing sedang berusaha mengejar impiannya.
Semoga sukses semua ya? Indonesia menunggu kontribusi kita. Semangat semangat!! >_<9

________  end  ________