Sabtu, 04 Januari 2014

TRY AND (SOMETIMES) ERROR [Ma'ahid dalam Bingkai Cerita]

Sambil menunggu dosen masuk kelas, aku buka-buka lagi catatanku semasa Aliyah dulu. Widiiih, banyak buanget ceritanya! Sampai bingung mau baca yang mana. Akhirnya, karena Bapak Dosen belum datang-datang juga, ya udah deh, tuh buku kubaca-baca aja semuanya.

Setelah kubaca ulang catatan ini, aku serasa tertohok. Ya Robbii... ternyata selama ini aku jarang sekali bersyukur. Aku merasa telah kufur. Gimana enggak? Catatan ini mengingatkanku pada masa-masa perjuanganku dulu. Saat dimana aku merasa lelah, penat lahir-batin, berusaha demi bisa kuliah... demi bisa melanjutkan pendidikan dan menyusun masa depan.Lalu, ketika akhirnya semua itu kudapatkan, kemana syukurku? Kemana tekadku? Kemana semangatku??
..........

Senin, 4 Maret 2013
Hari yang sibuk, padat, dan melelahkan. Demi bisa mendaftar Bidik Misi, aku sampai harus stay di kantor TU dari sepulang sekolah sampai selepas Maghrib.

Sore itu, aku memang sudah ada niat untuk mendaftar. Untung saja ada yang menemani : Rizza, Fida, Muzda, dan Mbak Novi. Kita pilih kantor TU sebagai lokasi, karena bisa Wi-Fian. Jadi kalau mau internetan, baik yang bawa laptop sendiri maupun pinjam komputer kantor,tetap gratis tis tisss!!(Lagipula guru-guru kami begitu baiiiiikk, jadi kami diizinkan untuk memakai komputer TU. Masya Allah... kami didukung penuh supaya bisa kuliah. Hiks, jazakumullah, guru-guruku tercinta... :’) )

Rizza sendiri mau sekalian daftar SNMPTN, karena kemarin dia belum sempat daftar. Tapi sayang, laman pendaftaran SNMPTN susah sekali untuk diakses. Pasti banyak juga yang sedang mendaftar. Maklum, se-Indonesia. Kebayang, kan gimana banyaknya? Aksesnya jadi  lemot banget.

Entah kenapa daftarnya bisa sampai selama itu. Waktu yang kami pilih pun nggak tepat banget ; sekitar jam empat sore, setelah les Bahasa Inggris dan Matematika berlangsung. Begitu selesai les, aku dan teman-teman langsung cabut aja ke kantor.

Sampai menjelang Maghrib, pendaftaran belum juga kelar. Kang Dul yang biasanya bertugas mengunci ruangan-ruangan di Ma’ahid, sampai capek nungguinnya. Hihi... ‘afwan ya, Kang? Tapi kita tanggung jawab, kok. Rizza minta tolong aja ke Kang Dul buat istirahat dulu, nggak perlu nungguin kita. Okelah, Kang Dul percaya. Jadi dia meninggalkan kami dan pergi ke ruang perpustakaan.

Muzda dan Fida yang kebetulan sedang berpuasa, mau-nggak mau akhirnya berbuka puasa di sana. Sebelum adzan Maghrib berkumandang, Fida dan Mbak Novi pergi membeli makanan dengan naik motor. Begitu kembali ke sekolah, mereka membawa gorengan, dua botol air mineral dingin, dan beberapa bungkus nasi, lengkap dengan lauk dan sambalnya. Hmm... nikmat sekali rasanya. Sudah, sesorean itu kita sibuk berkutat di kantor TU sambil makan malam bersama.

Seru sekali, bisa dapat pengalaman baru yang mengasyikkan. Di tengah kemelut bimbang dan rasa was-was yang mencekam, kami masih sempat mewarnai waktu dengan canda dan tawa. Walaupun sambil geregetan dan rasa tidak sabaran saat harus memelototi dan mengisi satu per satu laman pendaftaran, kami masih saja asyik bercanda dan menikmati makan malam yang sederhana. Capek memang. Tapi toh kami sempat tertawa-tawa juga.

Menjelang jam tujuh malam, kami baru bisa pulang. Rizza pulang sendirian, Fida berboncengan dengan Mbak Novi, dan aku diantar pulang oleh Muzda. Aku ingat, sepedaku masih di tempat penitipan di Besito. Ah, biarlah. Besok saja diambilnya.

Sebelum pulang, kita minta tolong Kang Dul buat ngunci kantor TU. Nggak lupa, kita juga bilang makasih karena Kang Dul sudah berbaik hati menunggu dan tidak berniat mengunci kita di dalam ruangan (waduh!), hehe....

Sudah. Malam itu, sedikit kelegaan telah menyejukkan hati kami. Yah, sedikit, karena kita perjalanan masih teramat panjang....
*****







Rabu, 01 Januari 2014

LIMAPULUH LIMA YANG BIKIN GREGETT! [Ma'ahid dalam Bingkai Cerita]

Sembari menyanyikan ‘Senandung Ukhuwah’ milik Sigma dan membuka-buka binder berisi foto, aku mendadak diserang mellow akut. Sampai pengen nangis, haduuh.... T.T

Di situ terpampang foto-foto berwajah unyu ala masa-masa SMA. Lalu entah kenapa, perasaan mellow ini menuntunku untuk bergerak mendekati lemari. Membongkar kembali setumpuk buku yang tertata rapi di rak terbawah. Mencari sesuatu, tapi sayangnya nggak ketemu. Lalu, aku cari lagi di bagian atas lemari. Yes, dapat! Ada sebuah buku dengan sampul bergambar kucing imut-imut.

Detik berikutnya serasa bertualang dengan mesin waktu ; segalanya ter-flash back pada masa-masa Aliyahku dulu. Selalu begitu. Buku tulis bersampul kucing ini serasa ingin membawaku kembali berkelana. Seakan-akan aku kembali menginjakkan kaki di tanah Ma’ahid.

Sayangnya, ‘pengembaraan’ alam bawah sadarku ini hanya dimulai dari ketika aku telah duduk di ujung bangku Aliyah ; sudah kelas 12. Bentar lagi ujian. Bentar lagi kelulusan. Yahh... sudahlah. Walau yang tertulis cuma masa-masa selama satu tahun, toh kenangannya tetap aja bejibun.

Saat dimana aku ‘bertualang dengan mesin waktu’, dimulai pada suatu hari yang cerah di bulan Januari....
____________________



Kamis, 3 Januari 2013
Awalnya, aku sama sekali nggak nyangka, kalau hari itu bisa menjadi awal semangat baru buatku.

Gedung Madrasah Aliyah Ma’ahid Kudus.
Bel sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu. Mapel pertama adalah Sosiologi. Guru yang kami tunggu-tunggu belum juga datang. Rupanya sedang ada keperluan.

“Ada tugas dari Bu Asmini,” seru salah seorang teman yang kemudian menuliskan sesuatu di papan tulis dengan huruf besar-besar. ‘LKS SOSIOLOGI, UJI KOMPETENSI 1 & 2 DIKERJAKAN’.
Komando kawanku itu langsung memancing reaksi yang sama. Tak lama, bunyi bret-bret kertas yang dilepaskan dari rekatan staples di bagian tengah buku tulis mulai terdengar. Lalu, pena-pena menggores gemulai. Kadang diselingi pula dengan obrolan iseng dan tawa-tawa renyah.

Tahu-tahu Shoffi nyeletuk, “Eh, pada bawa buku latihan UN Bahasa Indonesia, nggak?” sambil tangannya mengacungkan sebuah buku bersampul hijau.
Aku kaget, “Lho, emangnya disuruh bawa?”
“Lha iya... kan materi LKS-nya udah habis, masa’ mau dibahas lagi?"

Waduh! Perasaanku mulai nggak enak, nih. Kok bisa-bisanya sih, aku nggak tahu? Aku bongkar-bongkar isi tasku, mendapati bahwa buku yang kuharapkan ada, nyatanya nihil. Aaaa... tidaaak...! Selamatkan akuu...!!

Aku panik. Pikirku, materi LKS Bahasa Indonesia masih akan dibahas hari ini. Lagipula kata guru-guru, les untuk latihan UN kan baru akan dimulai hari Sabtu. Jadi, pikiran untuk membawa buku Latihan UN sama sekali tidak terbersit dalam benakku, apalagi hati dan sanubariku.

Rizza yang sebangku sama aku juga kelihatannya menunjukkan ekspresi yang sama ; kaget, bingung, campur-aduk. Dari situ, baru deh ketahuan. Yang nggak bawa buku latihan UN ternyata lumayan banyak boo’!
“Eh, pinjem aja yuk, ke kelas IPS2....”
“Yuk yuk...."

Suara-suara ajakan mulai terdengar. Aku pun memutuskan untuk mengambil inisiatif serupa. Aku nitip pesan sama temenku, kalau mau pinjam, sekalian ya, aku dipinjami? (Hihi, ra modal!)  Untung tugas Sosiologi sudah dikerjakan.

Duh, sayangnya, gara-gara nggak mau usaha sendiri, aku jadi nggak dapat pinjaman... hu hu. Teman-temanku udah pada dapat bukunya. Aku sama Rizza masih harap-harap cemas.

“Udah udah, ayo kita pinjam sendiri aja,” putus Rizza sambil bergegas keluar kelas. Nggak lama berselang, dia udah dapat aja tuh buku. Kebetulan waktu itu ada salah satu siswa IPS2 yang berpapasan sama kita di luar kelas, dan pas kebetulan banget, dia lagi bawa buku yang kita maksud. Tapi aku....

”Lha trus aku gimana?” aku jadi tambah bingung. Kalau aku belum dapat pinjaman, Rizza nggak akan tega ninggalin aku (aih, plen polepel dah!).
“Eh Za, tolongin aku dong... minta dipinjamin sama Riza...” aku mulai memelas. Riza, kalau zet-nya nggak dobel, berarti siswa kelas IPS2 yang dulunya jadi ketua OSIS.
“Ya udah, ayo tak anter,” sahut Rizza.
“Tapi kamu yang ngomong....” pintaku penuh harap. Soalnya, aku agak kurang pede. Rizza mengangguk setuju.

Aku dan Rizza baru akan mengambil keputusan ketika tiba-tiba terdengar suara tawa yang kompak-serempak dari kelas IPS2. Entah karena apa. Ada yang barusan bikin lelucon, mungkin. Yang jelas, aku dan Rizza mendadak ciut nyali karenanya.
“Haduuh... gimana niih...?”

Sebenarnya kita sama-sama malu. Rasanya agak aneh, mengingat bahwa hampir selama enam tahun, aku nggak pernah sekelas sama ikhwan. Isi kelasku perempuan semua. Wah, kepiye iki, Za...??

“Ayo, ayo! Bisa!!” aku malah menyemangati Rizza.

Awalnya, mimik mukanya serius sekali. Tapi nggak lama berubah lagi. “Takut....”
Aku jadi ketawa. Riza ikut ketawa. Tawa yang nanggung. Habis, sambil ditahan-tahan gitu. Lha ngguyu kok diempet. Nggak asik banget.
“Jelek kamu ketawa begitu,” katanya.
Lha kamu pikir ketawamu bagus?
“Ayo tah ayo....” antara nahan ketawa dan nggak sabaran, aku terus memelas. Tapi berulang kali juga kami gagal meyakinkan diri dan berujung pada tawa yang berderai.

Akhirnya, mungkin karena kasihan dan nggak tahan melihat muka melasku, Rizza pun membulatkan tekad.
“Udah, ayok!”

Dengan mantap dia melangkah ke kelas XII IPS2. Meminta izin pada Pak Nurdin –yang ketika itu mengajar Geografi di depan kelas—untuk bertemu dengan Riza. Begitu ketemu Riza, Rizza menyampaikan maksudnya, Riza manggut-manggut, Riza masuk ke kelas sebentar ngambil buku, trus dikasihin deh tuh, bukunya ke Rizza (halah halah...!). Rizza bilang makasih, ngucapin salam, dan akhirnya kita kembali lagi ke kelas XII IPS1. Sudaaah......!!

“Alhamdulillah... makasih, Za....!” aku tersenyum lega. Baru mengerti alasan kenapa aku sempet nggak dapat pinjaman tadi. Barangkali teman-temanku juga terjangkit syndrom nerves kayak aku. Lha masa’ iya mereka disuruh pinjam banyak buku sekaligus? Kalau aku yang digituin mah ogah.

Aku kembali ke kelas dengan perasaan senang. Berulang kali aku bilang makasih ke Rizza. Lega rasanya!
____________________

Jam pelajaran Sosiologi hampir usai. Sebentar lagi jamnya Bahasa Indonesia.
Aku sedikit was-was.
“Za, apa sebaiknya kita jujur aja ya?” aku bimbang. Kalau dipikir-pikir, jujur atau enggak-nya kami, toh nantinya pasti ketahuan juga.

Kronologinya begini (cieh, kronologi!) : Mapel Basdon akan berlangsung dari setelah jam Sosiologi selesai, sampai jam istirahat pertama. Usai istirahat pertama, akan ada mapel Ulumul Qur’an. Setelah Ulumul Qur’an, ada lagi Bahasa Indonesia dari jam 11.10 WIB sampai 11.45 WIB. Habis itu istirahat, habis istirahat ada Bahasa Indonesia lagi. Huft... banyak ya, pemirsa?

Nah, dengan sistem yang semacam itu, mungkin kita bisa saja ‘selamat’ di jam Basdon pertama. Tapi di jam Basdon kedua? No way! Kita nggak mungkin terus-terusan minjem buku itu sepanjang hari. Kelas IPS2 jelas membutuhkannya juga. Kecuali kalau kita mau sedikit berakting amnesia biar bukunya bisa kita tahan di laci meja seharian.
“Yaa... liat-liat entar deh. Kalau emang harus jujur, ya kita jujur aja.”
Kata-kata Rizza bikin aku mantep. Okelah.
____________________
Jam pelajaran Bahasa Indonesia tiba juga.
Bu Indri –guru Bahasa Indonesia kami-- masuk ke ruang kelas, duduk di kursi guru menghadap murid-muridnya. Seperti biasa, beliau mengawalinya dengan salam yang segera kami sambut dengan salam pula. Bu Indri mulai memberi petuah. Seperti seharusnya, tema yang dibahas adalah tentang Ujian Nasional.

Wah, kacau nih. Aku nggak bisa fokus. Gimana doong...??

“Sudah, yuk, kita mulai pelajarannya. Siapa yang tidak membawa buku latihan UN?”

Duh, Maaakk.....!!
Aku menatap Rizza, Rizza balas menatapku. Aku berbisik pelan, “Gimana?”
Rizza mengangguk, “Jujur aja!”

Aku sekilas melirik Bu Indri... waduh, beliau melihat ke arahku. Aku lantas pura-pura mengalihkan pandangan ke teman-teman, terutama yang sama-sama tidak membawa buku. Nggak bisa didefinisikan gimana bentuk muka mereka. Ada yang sempat melirikku. Mungkin sebenarnya pikiran mereka pun sedang berkecamuk, sama sepertiku. Wah, benar-benar nih, kejujuran generasi penerus masa depan sedang diuji di sini.

Rizza menatapku. Aku mengangguk pelan.
Kami sama-sama berdiri.
Bu Indri menatap kami, “Sini, Mbak, maju ke depan.”
Aku dan Rizza maju ke depan. ‘Ajaibnya’, aku sama sekali tidak takut. Dari sinar mata Bu Indri, beliau pun sama sekali tidak menampakkan raut kemarahan. Fiuhh... berasa ada setetes embun yang jatuh di hatiku....

Dan, mulailah interogasi berlangsung. Kenapa nggak bawa buku? Lupa. Nggak tahu kalau disuruh bawa buku Latihan UN. Kenapa bisa lupa? Malah bawanya LKS. Bukannya materi LKS sudah habis? Mana mungkin diajarkan lagi? Dan seterusnya... dan seterusnya....

Masyaallah... ada sesuatu yang berbeda. Rasanya aneh. Bukan aneh karena takut, tapi aneh karena justru aku—mungkin juga Rizza— merasa tentram sekali. Aku bisa lihat, dari sikapnya, Rizza seperti siap menerima apapun resikonya. Baiklah, aku pun siap.

“Ya sudah, Mbak, kalau begitu, kalian ke ruang BK sekarang. Buat surat keterangan ya?”
Aku dan Rizza mengangguk, “Iya, Bu.”
Lalu, tanpa disangka-sangka....
“Saya juga, Bu.” Mbak Anas tahu-tahu berdiri dari duduknya. Dan tanpa disangka-sangka, yang lain pun juga ikut berdiri!

Kami sempat terdiam beberapa saat. Krik... krik... krik... Ruangan senyap.

Subhanallah...kenapa jadi mirip adegan film begini?
Bu Indri menghela napas pelan, “Sini Mbak, berdiri!”
Teman-teman yang telah berdiri dari duduknya, ikut maju ke depan.
Allohu Akbar... ada sesuatu yang terasa ‘cess...’ di hati aku.
“Ya sudah, kalian semua, buat surat keterangan di BK.”
“Ya, Bu!” koor kami –kala itu berduabelas.

Kami keluar dari ruang kelas. Sesampainya di luar, Rizza berbisik padaku, “Qon, tahu nggak? Hari ini aku merasa udah jadi hero.”
Dalam hati aku mengiyakan. Aku pun sama, Za. Kita semua sama. Kita pahlawan untuk diri kita. Kita pahlawan untuk ego yang berhasil kita taklukkan!
____________________
         
Singkat cerita, kita berada di ruang BK menghadap Bu Ina. Satu persatu dari kami diminta untuk mengisi buku yang diberikan oleh beliau. Isi bukunya ‘keren’, daftar kenakalan siswa semua. Yaa Robbanaa...!
“Kamu juga, Qon?”
Aku nyengir malu, “Hhe... iya, Bu.”

Tahukah pemirsa, apa yang terjadi kemudian? Di kolom ‘Poin’, nggak tanggung-tanggung, beliau menulis angka 55!!!
“HAA?? Poinnya 55??!” seru teman-temanku tertahan.
“Lho iyaa... kan menyepelekan tugas dari guru,” terang Bu Ina innocent.
Subhanallah... dosa apa kita, sampai dapat poin segini banyak?? Padahal, kan kita cuma nggak bawa satu buku??
Kami lemas seketika.

“Buat surat pernyataan, contohnya seperti yang dibuat di kelas XII IPA. Izin dulu ke Bu Indri,” kata Bu Ina. (Sebelum masuk ke ruang kelasku, Bu Indri memang mengajar di kelas XII IPA. Rupanya, ada beberapa siswa di sana yang nasibnya sedang ‘kurang beruntung’, sama seperti kami. Hu hu....)

Aku dan Rizza pamit balik ke kelas, minta izin dulu ke Bu Indri. Bu Indri mengizinkan kami mengurus surat pernyataan itu. Tapi ada tambahan lagi, nih.

“Tanya ke Bu Ina, boleh nggak, kalau kalian minta izin dulu untuk pulang ke rumah, ngambil buku kalian yang ketinggalan.”

Kita berdua mengangguk lagi. Habis itu, kita pergi ke kelas IPA, pinjam surat pernyataan dari salah satu siswinya. Begitu dapat contoh suratnya, kita balik lagi ke ruang BK. Tanya sama Bu Ina, boleh nggak, kalau kita pulang dulu buat ngambil buku?

Kata Bu Ina, “Bu Indri kasih izin, ndak?”
“Bu Indri manut sama keputusan Bu Ina...”
Bu Ina menimbang-nimbang, “Ya sudah, kalian menghadap lagi ke Bu Indri. Bu Ina manut saja sama beliau. Konfirmasi dulu ya, ke Bu Indri? Nah terus, surat pernyataanya itu, kalian beli kertas dulu sana, buat ngurus suratnya.”

Allohu Akbar.... bolak-balik lagi dah kita! Sabar... sabar....
Kami memutuskan untuk membagi kelompok. Sebagian minta izin ke Bu Indri (kebetulan aku salah satu di antaranya), sebagian lagi membeli kertas folio.

“Mmm... ya sudah, nanti biar saya temui sendiri Bu Ina,” kata Bu Indri setelah mendengar keterangan dari Rizza. Sudah, akhirnya kami kembali lagi ke ruang BK dan menulis surat pernyataan.

Akhirnya, seharian itu kami sama sekali nggak ikut pelajaran Basdon. Nggak jadi pulang. Kami diminta belajar di perpus aja. Hhh... okelah.
____________________
         
Menuju ke inti.

Intinya adalah, kejadian hari itu merupakan awal semangat baru buatku. Gara-gara melihat angka 55 bertengger dengan ‘indahnya’ di kolom poin, aku jadi terpacu untuk bisa berjuang lebih keras. Serasa ingin membuktikan kalau kesalahan hari itu bisa aku tebus dengan prestasi. Dan sejak saat itu, aku bertekad untuk melakukan minimal 55 kali kebaikan. Yang pasti, harus ada kaitannya dengan materi pelajaran.

Itulah kenapa kemudian aku bisa mencintai lebih banyak mata pelajaran. Aku pengen bisa ‘balas dendam’! Angka 55 nggak akan menyurutkan tekadku. Karena daku pejuang sejati, wow!!

Walaupun menyebalkan (aduh, ampun, Buu...!), tapi itu adalah salah satu kenangan yang masih setia nyantol di memoriku. Hiks, ternyata hal semacam ini pun indah juga untuk dikenang... T.T
____________________

Foot Note : Akhirnya,--mungkin karena hal ini dirasa tidak adil dan merugikan generasi masa depan, bbrrrrrr—poin 55 itu pun dihapuskan juga dari catatan kami. Yiaaaaaaa.... Alhamdulillaah....!! ^^9
Tapi kami tetap tidak bisa menghindar dari hukuman Surat Pernyataan T.T
Sampai harus mengumpulkan lima tanda tangan segala. Dari diri sendiri, Guru Bahasa Indonesia, Guru BK, Wali Kelas, dan Waka Kesiswaan.

Hihi, sebenarnya malu juga sih, kalau kutuliskan pengalaman ini. Tapi semoga dengan adanya flash back semacam ini, aku dan teman-teman (terutama para ‘tersangka’ dalam ‘kasus’ ini, hehe) bisa mengambil hikmah dan pelajarannya, ya? Hehe... tetap semangatt!! ;)
____________________



DIARY ILC KAMMI




Jum’at, 15 November 2013
Di Pondok Pesantren Saubari Bening Hati, Meteseh, Tembalang

       Ditemani dinginnya udara malam dan rintik hujan di luar, sambil bersedekap tangan dan membungkus diri dengan jaket rapat-rapat, kami duduk menyimak materi pertama ILC.

       Acara ILC atau Indonesia Leadership Camp kali itu diawali dengan materi yang disampaikan oleh Ustadz Imron. Kami para peserta, duduk menyimak di salah satu ruangan yang cukup penerangan. Beliau Ustadz Imron, mengawali materi dengan senyum dan salam. Kami jawab salamnya berbarengan. Sambil tak lupa menyerukan takbir yang menjadi pompa semangat kami. Allohu Akbar!!

       Segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kami di acara ini. Sungguh luar biasa rasanya mendapat berlimpah-limpah ilmu yang tak ternilai harganya. Demikianlah cara Allah mengajari kita. Kita berkumpul dalam satu forum diskusi, meraup sebanyak-banyaknya ilmu sebagai tegukan penghilang dahaga. Basah sudah hati kami dengan telaga ilmu.

       Semoga di saat itu, para malaikat merentangkan sayap selebar-lebarnya sebagai tanda dirahmatinya majlis kami oleh Allah SWT. Semoga para makhluk-Nya ; malaikat, serangga-serangga kecil yang beterbangan di seputaran kami, kerikil-kerikil, rumput basah, hingga rintik hujan mendengungkan doa bagi kami, agar senantiasa tercurahi dengan segenap kasih Ilahi.

       Sejuk hati kami. Materi pertama tersuguh dengan tema Syahadatain.


       Sahabat, apa itu Syahadatain?

       Ya, sepatutnya muslim manapun tahu itu, apa arti Syahadatain. Dua kalimat yang berbunyi : 1.) Asyhadu allaa ilaaha illallaah, 2.) Wa asyhadu anna Muhammadar-rosuulullaah. Bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah. Bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

       Lalu, ada apa dengan Syahadatain?

       Sahabat, pernahkah engkau bertanya-tanya, mengapa orang-orang jahiliyyah yang hidup di zaman Rosul, mengingkari bahwa Illah mereka adalah Allah? Mengapa mereka, yang awalnya mencintai Muhammad SAW dan menyebutnya sebagai orang tepercaya, kemudian membenci beliau dan memusuhinya? Ada apa sebenarnya dengan pernyataan syahadat yang diucapkan Rosulullah? Toh mereka yang jahiliyyah pun tahu Tuhan itu ada. Mereka tahu Allah itu Wujud. Bahkan ayah Rasulullah yang juga hidup di masa jahiliyyah punya nama ‘Abdullah, yang artinya ‘hamba Allah’. Lantas, mengapa mereka enggan bersyahadat?

       Sahabatku....
       Syahadat, nyatanya bukanlah perkara yang bisa dianggap enteng. Tidak cukup hanya dengan bersuara melalui lisan. Tidak pantas jika hanya diucapkan tanpa perenungan.
       Dalam Bahasa Arab, kita mengenal kata ‘Tuhan’ dengan kata ‘Ilaah’ dan ‘Robb’. Mengenai kalimat syahadat, pernah seorang paman Nabi berkata kepada beliau ; dia bersedia mengucapkan kalimat syahadat, asalkan kata ‘Ilaaha’ diganti menjadi ‘Robba’. Lho,kenapa harus diganti? Padahal artinya sama-sama ‘Tuhan’ ya?

       Tidak! Makna ‘Ilaaha’ ternyata berbeda dengan ‘Robba’.
       ‘Robb’ mengandung makna ‘Tuhan’ ; Tuhan Yang Menciptakan, Tuhan Yang Memberi rizki, Tuhan Yang Memberi kita kehidupan. Sedangkan ‘Ilaah’ memiliki makna yang lebih dalam daripada itu.

       ‘Ilaah’ berarti Tuhan ; Tuhan Yang Dicintai, Tuhan Yang Diikuti (peraturan-Nya), Tuhan Yang Ditaati, Tuhan Yang Disembah.

       Salah satu sifat baik orang-orang jahiliyyah di masa Rosul adalah menepati janji. Mereka sangat konsisten dan menghargai arti sebuah sumpah. Mereka tidak mau asal bicara, asal mengumbar apalagi melanggar. Mereka tahu betul makna dari syahadatain. Tiada Ilaah selain Allah. Artinya, segala ketetapan dan ketentuan Allah harus menjadi bagian dari hidup mereka, Bagian dari nafas dan denyut nadi mereka.

       Tidak ada lagi kuasa, atau merasa hebat di atas segala-galanya. Tidak bisa menjadi ‘Tuan’ yang dzalim, melainkan harus senantiasa menghamba pada Sang Maha Raja. Konsekuensinya, orang yang telah bersyahadat hanya boleh taat pada Allah, tunduk pada-Nya dan mencintai Dia dengan seutuh-utuhnya cinta.

       Para sahabat Nabi paham betul dengan makna syahadatain. Tidak heran, mereka dikenal pemberani dalam menegakkan agama Allah. Mereka rela berperang demi membela agama yang haq. Mereka tidak takut pada apapun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada yang mereka cemaskan. Pun dengan kehilangan harta dan sanak saudara, mereka rela. Bahkan nyawa sekalipun menjadi taruhannya.

       Jika kita mencintai sesuatu, maka cinta itu harus dilandaskan pada kecintaan kita terhadap Allah.Sebab Allah-lah Yang Menanamkan benih cinta di hati kita. Mencintai orang tua, saudara, kerabat, sahabat, dan sesama muslim lainnya. Apa maksudnya mencintai seseorang karena Allah?

       Artinya, kita mencintai dia karena dia mencintai Allah. Karena dia menuntun kita untuk lebih dekat dengan Allah. Kalau seandainya orang tua kita memerintahkan kita untuk berbuat syirik atau melakukan hal-hal yang menyimpang, maka kita tidak boleh menurut. Allah membenci perbuatan syirik, karena itu, kita dilarang menuruti perintah yang mengarah padanya.

       Mencintai seseorang karena Allah, bisa juga bermakna bahwa kita mencintai seseorang yang dicintai oleh Allah. Mencintai sesuatu yang disukai oleh Allah. Itulah makanya, kenapa tidak pernah ada ungkapan ‘mencintai pacar karena Allah’. Lha, mana ada tuntunan berpacaran dalam Islam? Memangnya Allah pernah mengajari kita tentang pacaran? Lagipula, tidak pernah ada panduan untuk berpacaran dengan baik dan benar, apalagi sesuai dengan syari’at Islam ( kecuali kalau pacarannya dengan suami/istrinya sendiri ^-^).

       Itulah sobat, mengapa para pejuang sejati rela berjihad membela Islam. Karena mereka mencintai Tuhannya, bukan sekedar cinta abal-abal. Mereka begitu konsisten menepati janji, menepati sumpah yang tersemat dalam kalimat syahadat yang diucapkannya.

            Allohu Akbar!! Allohu Akbar!! Allohu Akbar!! Insya Allah, para mujahid sejati senantiasa dicintai oleh Allah dan dibalas dengan syurga-Nya yang agung. Aamiin.
______________

       Malam merambat naik. Materi pertama tuntas sudah.Tiba waktu kami beristirahat.Sekali lagi, seruan takbir menggema semarak : Allohu Akbar!!
       Kami beranjak menuju satu ruangan yang telah ditata apik sebagai tempat beristirahat. Esok akan ada materi lain yang Insya Allah akan semakin menggugah semangat kita. Waktunya istirahat...! =)
______________
       Allah...kami adalah para perindu syurga. Rindu bertemu dengan-Mu, rindu bertemu dengan Rasul-Mu. Allah.. jika kami harus mati, pertemukanlah kami dengan-Mu dalam keadaan syahid. Aamiin. Aamiin. Aamiin. Yaa Robbal ‘Aalamiin.







Minggu, 24 November 2013

ENKRIPSI, SISTEM PENGAMANAN DATA DENGAN SANDI

Sebagai upaya pengamanan data dalam suatu komputer, proses penyandian data menjadi hal yang penting untuk dipelajari dan diterapkan. Dalam hal ini, kita mengenalnya dengan istilah Enkripsi.


Enkripsi merupakan proses penyandian data dari Plaintext menjadi Ciphertext/Cryptogram. Plaintext sendiri adalah teks biasa yang masih dapat dibaca atau belum berbentuk sandi, sedangkan Ciphertext (disebut juga Cryptogram) adalah pesan yang telah disandikan agar tidak dapat dibaca oleh pihak-pihak tertentu. Ilmu yang mempelajari tentang penyandian pesan disebut Cryptography (Kriptografi).

Nah, untuk lebih jelasnya, teman-teman dapat berlatih cara menyandikan pesan dengan membuka laman http://www.braingle.com/brainteasers/index.php



Klik pada menu Brain Teasers -> pilih sub menu Codes & Ciphers. Setelah itu, teman-teman dapat memilih jenis penyandian apa yang ingin teman-teman pelajari. Misalnya, jenis penyandian Caesar Cipher.

Sedikit menambah pengetahuan, Caesar Cipher adalah cara penulisan huruf alfabet menjadi bentuk sandi dengan menulis tiga huruf sesudahnya. Artinya, jika kita ingin menulis huruf A, maka yang kita tulis adalah huruf D ; jika kita ingin menulis B, maka yang kita tulis adalah huruf E, begitu seterusnya. Misal, kita ingin menuliskan kata “SIAP”, maka bentuk sandinya menjadi “VLDS”.

Setelah masuk pada sub menu Codes & Cipher, klik salah satu pilihan (sebagai contoh, saya gunakan pilihan Caesar Cipher seperti yang telah saya sebut di atas).

Teman-teman bisa berlatih dengan mengetikkan sebaris kata atau kalimat pada kolom Plaintext. Contoh : Semangat belajar, teruslah berusaha gapai impianmu.

Klik Encipher, maka yang terjadi kemudian adalah muncul bentuk sandi pada kolom Ciphertext berupa : Vhpdqjdw ehodmdu, whuxvodk ehuxvdkd jdsdl lpsldqpx.

Kalian juga bisa menggunakan cara yang sebaliknya ; mengetikkan bentuk sandi pada kolom Ciphertext, untuk kemudian diterjemahkan dalam bentuk Plaintext.
Contoh, ketikkan pada kolom Ciphertext kalimat :  Dnx vdbdqj pdpd.
Klik Enchiper, maka yang muncul dalam kolom Plaintext adalah....??
----------------------------------------------------

Nah, selamat mencoba, teman..... ^_^





Minggu, 03 November 2013

JUST BE YOURSELF



Kita nggak bisa dituntut untuk menjadi 'orang lain', karena masing-masing kita punya kepribadian dan karakter yang berbeda-beda.

Untuk apa bersikap layaknya seseorang yang bukan diri kita? Pasti rasanya aneh, kan? Toh setiap orang tidak bisa di-samarata-kan. Masing-masing sudah punya kelebihan dan kekurangannya.

So, Just be Yourself. Karena kamu nggak akan dipandang baik selama kamu menipu dirimu sendiri. Jadilah seperti apa adanya kamu. Yakinlah bahwa menjadi diri sendiri itu jaauuuuuh lebih indah, karena di situlah harga dirimu akan tampak tinggi. Kamu yang menghargai diri sendiri, dan kamu yang mencintai apa adanya kamu.

Pokoknya, believe aja kalau kamu bisa jadi yang TERBAIK !! Chayooo Semangaaaaaaaaattttttttttt !! ^^9

*******



Selasa, 01 Oktober 2013

TEKNOLOGI MASA DEPAN __ “Teknologi Generasi Masa Depan?? Waow!”

Berkhayal tentang teknologi masa depan? Hum... susah-susah gampang ya? Kalau sekedar mengkhayal mah gampang saja. Misalnya, aku ingin ada ‘Pintu Kemana Saja’, kayak yang di kartun Doraemon itu tuh... tapi kan nggak masuk di akal ya? Ha ha :D

Biasanya, aku paling suka kalau diminta berimajinasi. Orang nggak disuruh saja hobiku memang begitu, hehe... iyalah. Anak sastra harus pintar berimajinasi, kan? Tapi... uh, oke baiklah, walaupun mungkin saya rada-rada gaptek, akan saya coba. Orang cuma imajinasi kan ya? Suka-suka saya aja. Hehe. ^^

Tadinya sih, aku ingin bisa punya robot yang super canggih, yang bisa banyak membantu pekerjaan manusia. Tapi.. eh, sudah ada ya? Iyalah, sudah sejak lama juga kali'. Ya siapa lagi pelopornya kalau bukan orang Jepang.

Aku masih ingat gimana terkagum-kagumnya aku dulu sama Robot Asimo, yang dikenal ramah dan pintar. Lalu beberapa masa kemudian, muncul lagi robot-robot baru yang nggak kalah hebatnya. Ada yang bisa nyanyi+nari seperti HRP_4C.. (banyak tuh di google. Cantik yak?? :D), ada Aiko yang jago bersih-bersih rumah.. (pembantu, ha ha), ada Saya ('Saya' tuh nama robot loh) yang bisa jadi sekretaris, ada J-girl Actroid yang bisa jadi pembawa acara... wiih banyak deh pokoknya.




_____ eh? Kenapa jadi membahas soal robot sih? Oiya, harusnya ini soal komputer ya? Ha ha, teknologi kan luas, bos! Lagipula, berbicara tentang teknologi, memang siapa sih yang belum kenal dengan laptop, i-pad, netbook, ebook,... banyak ya, yang sudah pada tahu? Uah pada canggih-canggih. Jadi, aku musti mengimajinasikan tentang apa lagi nih? Duh, susah
-_-

Hm... okelah. Aku ingin bisa ada televisi tiga dimensi. Iya, jadi tuh gambar di dalam TV bisa dilihat dari sisi mana saja. Pernah nonton kartun Doraemon episode pertama nggak? Nah.. yang kayak gitu itu tuh.. jadi tuh kita kayak nonton secara langsung.. seperti menonton orang di atas panggung, yang bisa dilihat dari sisi mana saja. Heii keren banget yak? :D

Terus, aku ingin bisa ada teknologi yang memungkinkan kita untuk ngobrol sama tokoh-tokoh animasi. Wew.. obsesiku dari dulu, pengen bisa ketemu dan ngobrol sama Shinichi Kudo. Hehe.. nggak bisa dinalar ya? Whatever, namanya juga imajinasi. ^^

Udah ah, segitu aja. Terima kasih untuk Bapak Ardytha Luthfiarta, dosen TI saya yang sudah memberi tugas untuk mengimajinasikan teknologi masa depan. Secara tidak langsung, ini juga banyak membantu saya untuk lebih memahami teknologi-teknologi masa kini (dan masa depan tentunya).
Terima kasih... ^-^