Selasa, 22 September 2015

INSYAALLAH~~

A: "Nanti ikut rapat ya, jam empat sore. Di tempat biasa."
B: "Insyaallah"
A: "Ditunggu pokoknya."
B: "Iya, insyaallah."
A: "Kok 'insyaallah'? Janji dong!"
B: "Iya kan aku udah bilang insyaallah--"
A: "Nggak boleh bilang gitu, harus dateng pokoknya!"
B: "...???"

***
Bingung jadinya kalau ada yang menagih bilang "janji" seperti contoh di atas. Memangnya, kenapa kalau bilang "insyaallah"? Apa itu sesuatu yang dilarang?

Please, coba angkat tangan, siapa yang berpikir kalau "insyaallah" sama aja artinya dengan "nggak janji"? Hayoo... pasti sebagian dari kalian ada yang "memanfaatkan" kalimat thayibah nan mulia itu untuk menunda, bahkan mengingkari janji. Ada? ADA!

Padahal, "insyaallah" mempunyai makna "jika Allah menghendaki". Artinya, kalau kamu udah buat janji, kamu dalam kondisi sehat, masih bernyawa, masih punya napas, dan diberi kesempatan+waktu, itu artinya, kamu DIIZINKAN sama Allah. Kalau sampai kamu ingkar janji, duh, itu mah bukan "insyaallah" lagi namanya. Itu kamunya aja yang nggak mau, malas gerak, malas ambil kesempatan yang ada. Jangan malah nyalahin "insyaallah"....

Jika kamu berkata "insyaallah", itu artinya kamu sudah berjanji. SAMA DENGAN janji. Bedanya, kalau tiba-tiba (wallohu a'lam) jatuh sakit, ada halangan yang benar-benar mendesak, atau dicabut nyawanya oleh Allah, maka itu sudah jadi bagian dari ketentuan-Nya, dan kamu nggak dianggap mengingkari janji. Coba kalau bilangnya "Janji!", trus tiba-tiba ngalamin hal yang di atas. Gimana caranya kamu menepati janji, padahal ketentuan Allah yang lain sudah berlaku?

Apakah Rasulullah pernah mendidik kita untuk ingkar janji? Apakah Rasulullah pernah mengajarkan, "Kamu kalau males nepatin janji bilang insyaallah aja yaa??" Pernah? Hmm....

See? Nggak ada yang salah dari kata "insyaallah". Jadi, gunakan kata ini ketika engkau berjanji dan usahakan untuk menepatinya. Setuju? ^-^
***

Untuk saudara-saudaraku di jalan Allah. Ana uhibbukum fillah~~

Rabu, 26 Agustus 2015

CINTA UNTUK KANGMAS OPERATOR _ (Cerpen)

Tisa lagi sibuk dengan setumpuk buku-buku berbahasa Inggrisnya. Di sebelahnya, si Farah asyik saja mengangguk-angguk dengan earphone di telinga. Mulutnya ngoceh merapal lirik lagu. Buku-buku sastra Indonesia juga numpuk di sebelah, tapi disentuh pun tidak.

"Belajar woy, nyanyi mulu kayak suaramu bagus aja," Tisa susah konsentrasi di samping Farah. Teman sekosannya itu kalau sudah asyik paling nggak bisa diganggu.

"Males ah, bentar lagi juga belajar," entah udah berapa kali kalimat itu dia ulang-ulang. Ponsel terus yang dia perhatikan. Tiba-tiba, sambil nyengir, dia nyeletuk, "Masih zaman aja ya, sms penipuan kayak gini."

"Apaan?"

"Nih, barusan aku dapat sms. Ngakunya, sih dari operator. Katanya aku dapat hadiah motor Mio...."

Tisa nyengir, geleng-geleng kepala. Ah, itu mah udah biasa.

Mereka kembali dengan kesibukan masing-masing.

Nggak lama kemudian, Farah berhenti menyanyi.

"Halo?" dia perbaiki posisi earphone-nya. Ada yang telepon rupanya.

"Siapa ya?"

Tisa perhatikan, raut wajah Farah serius sekali. Kemudian, dia nyengir, lantas serius lagi.

"Hah? Masa sih, Mas? Beneran?"

Tisa mendekat. Bertanya lewat gerak bibir tanpa suara. 'Apaan, sih?'

"Mas-mas yang ngaku dari operator," Farah mencabut earphone dan menyetel ponselnya ke mode loudspeaker. Bukan Tisa yang minta, tapi Farah antusias sekali ingin menunjukkannya.

"... Halo, Mbak?" terdengar suara dari seberang.

"Cuekin aja, sih...." bisik Tisa tak digubris si empunya ponsel.

"Eh iyaa... halo, Mas...??" Farah girang bukan kepalang.

"Iya halo... jadi, Mbak... dengan... Mbak siapa?"

"Farah."

"Oh, Mbak Farah ya? Mbak Farah dengan nomer 085229xxxxxx... betul?"

"Iya betul."

"Iya, Mbak Farah, selamat ya... Anda adalah pemenang undian TelkomsayPoin dan berhak mendapatkan hadiah satu unit sepeda motor matic dari Telkomsay...." suara di seberang terus saja mengoceh. Nggak sadar kalau yang ditelepon malah asyik manyun-manyun menirukan suaranya sambil menahan tawa.

Melihat tingkah temannya, Tisa mau-nggak mau jadi abai dengan tugas kuliahnya. Menarik. Farah bisa aja ngerjain orang.

"Ya Allah, Maas... ini beneran, Mas?? Serius? Saya dapat motor??"

"Iya, Mbak...."

"Mas nggak becanda, kan? Serius? Beneran??"

"Iya, Mbak Farah____"

Kyaaaa... Ya Allah alhamdulillaah... alhamdulillaah... saya mau punya motooor...! Dikirim ke sini kan, Mas... iya, kaaan...??"

Lebay juga ini si Farah.

"Iya Mbak, nanti minta tolong Mbak kirimkan alamat lengkap Mbak Farah ya.... Dan sebelumnya Mbak, untuk mendapatkan hadiah tersebut, dimohon memenuhi ketentuan yang berlaku. Mbak Farah bisa...."

Si Mas ngoceh terus di seberang, menyebutkan syarat-syarat yang nggak didengerin Farah, malah lawan bicaranya itu keasyikan ngikik di ruang tamu kosannya. Tisa nggak kalah gemas dengerinnya. Ini anak serius banget becandanya.

"Halo, Mbak?" si Mas cari perhatian lagi.

"Eh, iya Mas... saya masih di sini...."

"Iya, jadi bagaimana, Mbak Farah?"

"Apanya, Mas, yang gimana?" berlagak telmi si Farah ini.

"Tadi saya sudah sebutkan syarat-syaratnya... saya ulang ya...."

"Nggak, Mas, nggak usah, saya ingat, kok. Mas beneran, kan...??"

"Iya, Mbak. Saya manager di operator ini____"

"Alhamdulillaah... saya seneng banget lho, Mas...."

"Iya, alhamdulillah ya, Mbak ya...." si Masnya nyahut aja.

"Mbak Farah, ada dua pilihan warna motor, Mbak ingin yang biru atau yang merah?"

Agaknya serius betul si mas-mas ini mau nipu orang.

"Udah warna apa aja, Mas. Asalkan Mas yang pilihin, saya mau!!" Farah mulai ngelantur.

"Iya Mbak, baiklah kalau gitu____"

"Mas Joko?"

"Ya? Eh, nama saya Edi, Mbak."

"Iya, saya manggil tukang bakso lewat."

Tisa cekikikan. Mana ada tukang bakso?

"Mas Edi...."

"Iya, Mbak Farah?"

"Saya senang bisa kenal sama Mas."

"Iya Mbak, sama-sama. Saya juga... eh?"

"Mas tahu? Saya pengen nyanyi buat Mas, sebagai ucapan terima kasih dari saya. Mas dengerin ya...?? Suara saya bagus, lho...."

Mas Edi ketawa. Sebelum si Mas bilang apa-apa, Farah sudah mulai bernyanyi.

"Hari ini... adalah lembaran baru bagikuu...."

Tisa kepingkal-pingkal nutupin wajahnya pakai bantal. Anak-anak kosan yang lain tiba-tiba saja jadi ikutan nimbrung. Masih sambil nyanyi, Farah kasih kode.

"Inilah... diriku... dengan melodi untukmuuu... SEMUANYA!"

"DAN BILAA... AKU BERDIRIII... TEGAAR... SAMPAI HARI INII... BUKAAAN KARNA KUU...AT DAN HEBATKUU...UUU...."

Anak-anak sekosan ramai bikin paduan suara. Tisa tambah kepingkal-pingkal. Farah membekap mulutnya pakai bantal. Parah si Tisa mah, ngakaknya nggak ketulungan.

Di seberang sana, Mas Edi nggak mampu berkata-kata. Yang ditelepon asyik bikin paduan suara tanpa jeda. Bukan cuma sampai reff, tapi sampai kelar itu lagu.

"SEMUAA... KARENA CINTAA...."

"Ee... Mbak...."

"SEMUA... KARENA CINTAA...."

"Mbak...?"

"TAK MAAAMPU DIRIKU... DAPAT BERDIRI TEGAR... TERIMA KASIH CINTAA...."

"Hh... Mbak Farah?"

"TRIMAKASIH... CINTAA...!"

"Mbak...??"

"Gaes, Yovie and Nuno, Manusia Biasa. Jeng-jeng-jeng--MASIH KUINGAAT SELALU... SAAT KAU BERJANJI... PADAKU... APAA...??"

"TAKKAN PERNAH ADA CINTA YANG LAINNYA, TERASA BEGITU INDAAAAAAHH...!!"
*****

SERIUS _ (Cerpen)

Aku nggak tahu kenapa dia pengen banget berbicara empat mata sama aku. Aku cuma mesem sambil beralasan, "Entar yang ketiganya setan, loh."

Dia senyum masam, lalu dengan agak terpaksa memberiku sebuah penawaran, "Ya udah, kamu boleh ngajak teman, siapa aja."

Aku senyum pas dia ngomong begitu. Pasti ada hal penting yang sangat ingin dia sampaikan.

Di sini, sekarang. Aku duduk di rerumputan tepi danau kampus. Tempatnya sepi, hanya ada aku, dia, dan tiga orang temanku. Dia agak kaget pas tahu kalau ternyata, aku bawa teman lebih dari satu orang. Tapi kelihatannya, dia nggak keberatan. Tetap saja, akhirnya toh malah cuma aku yang dia ajak bicara. Lainnya, pada asyik sendiri jalan-jalan sambil foto selfie. Dasar!
*****

"Aku serius lho, Nin, sama kamu."

"Serius apanya?"

Dia berdecak; agak sebal kelihatannya, "Kok nanya lagi? Serius kalau... aku suka sama kamu."

Aku nunduk. Iya sih, dia sering kasih "sinyal" sama aku. Terlalu sering untuk nggak bisa aku sadari. Tapi, aku takut. Khawatir kalau ternyata, dia nggak bisa serius.

"Masa?" aku nanya asal.

"Apanya?" dia mulai geregetan, "Kamu nggak lihat aku sampai ngotot begini?"

Aku tertawa. Sejujurnya, aku deg-degan banget. Selama ini, kita cuma berteman. Biasa saja. Ngobrol juga nggak canggung, nggak ada perasaan berdebar-debar atau yang semacamnya. Makanya, aku agak bingung bagaimana cara menanggapi.

"Gimana?" dia meminta kepastian.

"Apanya yang gimana? Kalau emang serius, katakan itu sama orang tuaku," aku tersenyum lebar. Sungguh, aku asal nyeplos sebenarnya. Niat hati kepengin menguji keseriusan dia.

Dia diam sebentar, "Jadi, aku boleh datang ke rumahmu?"

"Datang aja."

"Oke. Kalau gitu, dua minggu lagi."

"Apanya?"

"Ke rumah kamu, lah. Sama orang tuaku juga."

Aku terbelalak. Ha? Orang tua?? Seriusan, nih?!

"Mau... ngapain?" tanyaku ragu-ragu.

Dia mengangkat alisnya dengan nakal, "Ngelamar kamu, lah. Apa lagi?"

Pikiranku nge-blank. Aku sampai nggak sadar terbengong-bengong setengah melamun. Masih nggak bisa menyerap seutuhnya atas apa yang aku perbincangkan dengan dirinya.

"Datang aja," aku nyeplos lagi. Pengen nantang. Pengen tahu. Padahal, duh! Dia serius banget, Nindiii... kamu nggak bisa lihat itu?! Pengen rasanya kuketok kepalaku sendiri. Duh, dasar!

Pikiranku butek, sebutek air di danau kampus.
*****

Ya Allah... dia beneran serius ternyata!

Aku masih mengunci diri di kamar, belum berani keluar. Aku lihat, dia dan keluarganya turun dari mobil. Bapak dan Ibu menyambut mereka.

Aku ngaca di cermin. Penampilanku sudah rapi. Pakai gamis merah jambu dan kerudung lebar segi empat dengan warna putih semi-semi pink. Ibuku yang pilihin. Aku jadi kelihatan cantik. 'Demi hari ini.' Padahal, asli, aku masih setengah sadar sama apa yang akan terjadi.

Ya Allah... hari yang mendebarkan. Ternyata hari ini benar-benar tiba. Aku pikir dia "slenge'an". Makanya, aku suka nggak serius kalau nanggepin dia. Nggak nyangka, dia jauh lebih serius dari yang aku duga.

Tanganku berkeringat dingin. 'Aku mau pingsan!'

Tapi, sambil bercermin, aku tersenyum walau agak dipaksakan. 'Oke fine. Nin, it's serious.'

Entah mengapa, aku merasa berbunga.
*****

CINTA DALAM HATI

Menjadi orang yang pendiam itu... serba dilematis. Ingin rasanya mengungkapkan sesuatu, tapi hanya bisa membahasakannya dalam diam. No words, no speak. Segalanya cuma bisa dipendam dalam hati.

Ada keinginan bicara, tapi tidak bicara. Punya hasrat berseru, memekik, memuji, berkeluh kesah; semuanya hanya disimpan untuk diri sendiri. Kasmaran, suka, cinta, cemburu, marah, benci....

Orang-orang introvert punya pelampiasan sendiri untuk menumpahkan isi hatinya. Bukan dengan lisan --barangkali salah satunya dengan tulisan. Menulis, mencorat-coret, menciptakan berlembar-lembar diary sampai hilang beban di hati.

Walau tak diucapkan, ia punya cara tersendiri untuk mencintai. Ada doa yang dipanjatkan. Ada pengharapan tulus yang lirih ia ucapkan. Ada namamu yang ia sebut. Ada raut wajahmu yang ia bayangkan.

Dia yang tak banyak bicara, barangkali tidak banyak memberi makna. Tapi, dia punya cukup banyak cinta yang dia bagi untuk setiap nama yang disebutnya dalam doa.

Dia, yang menunduk malu tiap berpapasan denganmu. Yang hanya bisa tersenyum untuk setiap perhatianmu. Ketahuilah; ada cinta dalam hati yang amat ingin ia bagi.
*****

CUEK

Cuek. Punya karakter yang satu ini memang gampang-gampang susah. Orang yang cuek biasanya dihindari, didiamkan, nggak ditarik untuk membaur. Apalagi kalau baru kenal. Apalagi kalau belum sepaham.

Punya karakter cuek, di sisi lain juga menguntungkan. Nggak gampang sakit hati, itu salah satunya. Entah nggak peka atau karena nggak mau ambil pusing, orang yang cuek biasanya gampang lupa dengan masalah. Bawa enjoy saja, ngapain dipikir berat-berat. Disinggung, disindir, diolok, diomongin di belakang, santai saja. "I have my own world and you can't disturb it." Itu prinsipnya.

Ngomong sama si cuek barangkali agak menyebalkan. Kayak nggak didengerin, kayak nggak bisa diajak serius. Padahal, si cuek juga ternyata punya sifat jujur dan pantang ingkar janji. Kalau toh benar ada janji yang ia ingkari, akan ada perasaan sesal dalam dirinya dan tekad untuk memperbaiki diri. Biarpun cuek, pantang bikin orang merasa sakit hati.

Tapi, kalau si cuek sudah bosan, jangan harap dia bisa kamu paksa-paksa. Butuh waktu untuk dia menyesuaikan diri antara mood dengan kenyataan dan kebutuhan yang mendesak. Mood si cuek memang gampang berubah-ubah, dan bisa jadi sangat drastis. Nggak heran, semenit tadi dia suntuk, menit berikutnya bisa ketawa-tawa.

Yaa... meskipun mungkin nggak semua orang cuek punya karakter kayak gitu, at least, saya sebagai orang-agak-cuek memang seperti itu. Nyiehehee....

Sekian.

Minggu, 21 Juni 2015

(KATANYA) MENGGALI IDE ITU MUDAH, MASA??



Apakah menggali ide untuk sebuah karya fiksi adalah hal yang mudah?

Saya pernah mengikuti sebuah seminar kepenulisan. Layaknya seminar kepenulisan pada umumnya, sang pembicara – yang tentunya adalah seorang penulis – menjabarkan tentang bagaimana cara menulis sebuah cerita, juga contoh karya-karya yang pernah ia buat. Keren.

Ketika tiba pada sesi tanya-jawab, saya mengangkat tangan dan melontarkan satu pertanyaan, yang pastinya sangat lazim kalian dengar dalam tiap seminar sejenis: Bagaimana cara menggali ide sebuah tulisan? Karena setahu saya, banyak penulis yang mengatakan, “Menggali ide itu mudah.” Amati saja sekitarmu, akan ada banyak hal yang nantinya bisa kamu tuliskan menjadi sebuah cerita.

Akan tetapi, saya melengkapi pertanyaan itu dengan sebuah request: “Tolong Anda sebutkan satu buah kata, lalu Anda buat menjadi sebuah cerita, dari awal, konflik, sampai ending-nya.” Tahu apa yang kemudian terjadi?

Sang pembicara menjadi kebingungan sendiri, dan pada akhirnya memohon maaf karena tidak dapat memenuhi permintaan saya.

Kesimpulannya, apakah menggali ide untuk menulis cerita adalah hal yang mudah?

Tidak. Ternyata, memang sulit sekaliiiiiiii...!!

Saya memang hobi menulis. Saya suka membuat puisi, cerpen, novel, apa saja. Kadang, karya yang seharusnya menjadi sangat panjang seperti novel, pada akhirnya malah tidak jadi diteruskan, berhenti di tengah jalan. Salah satu kendalanya, tentu saja ide. Tahu-tahu jalan cerita menjadi mandek, bingung bagaimana harus meneruskannya. Apalagi, saya tipikal penulis yang jarang merancang kerangka karangan terlebih dahulu – mendingan to the point saja.

Saya adalah orang yang sangat moody. Semua berjalan baik ketika mood saya baik, dan menjadi buruk ketika mood saya tidak mendukung. Jadi, bagi saya, menggali ide jelas bukan hal yang mudah dan bisa dilakukan setiap saat.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan agar tetap dapat menulis?

Bagi saya, menulis tidak harus selalu berarti menelurkan karya. Menulis bukan selalu diperuntukkan bagi puisi, cerpen, maupun novel. Mengisi diary juga menulis. Menumpahkan uneg-uneg di kertas atau di laptop juga disebut menulis.

Menulis tidak harus bagus. Tidak harus memiliki unsur-unsur intrinsik dan kriteria kepenulisan yang benar. Justru, tulisan yang baik adalah tulisan yang dibuat saat kita ingin menulisnya. Bukankah diary ditulis ketika kita sedang punya beban pikiran? Ide sebagus apa pun untuk membuat cerpen, ketika mood kita sedang tidak baik untuk menuliskannya, kacaulah tulisan kita.

So, jika kalian memang sedang tidak punya ide, tulis saja bahwa kalian sedang tidak punya ide. “AAAA... saya sebel banget gara-gara pengen nulis, tapi ide sama sekali nggak muncul di kepala saya! Saya mesti gimanaaaa...!! Pengen jalan-jalan, pengen makan es krim, ngemil sambil nonton film terbarunya Detektif Conan! Sebeeelll... banyak tugas, disuruh bikin makalah, senep sayaaa!” Itu contoh ungkapan hati, nggak masalah kalau ditulis, asal nggak dibagi-bagi. Orang lain juga senep kali dengerin omelanmu, hahaha....

Menulis itu butuh hati, ceila.... Jadi, jangan terlalu fokus pada ide atau karya yang baik. Menggali ide itu, saya akui, memang tidak mudah. Menggali ide itu sulit, tapi juga bukan berarti mustahil didapat.

Nah. Selamat menulis kembali. :)

Rabu, 10 Juni 2015

SAYA PUN INGIN MENJADI MANUSIA "NORMAL"


Banyak yang mengaku iri dan bertanya, bagaimana saya bisa begitu menikmati hidup. Seolah-olah saya sangat jarang diterpa masalah. Atau, jika pun saya menghadapi suatu masalah, saya bisa dengan santai menghadapinya.

Lantas, ada juga yang berspekulasi bahwa saya seperti ini karena saya memiliki golongan darah yang dikenal memiliki sifat sangat menikmati hidup. Lho? Saya tidak mengerti mengapa ini semua bisa sampai dikaitkan dengan golongan darah. Entahlah. Yang jelas, beberapa orang menilai saya seolah tidak serius dalam menjalani hidup.

Saya hanya bisa tersenyum. Begitu ya, orang menilai saya? Yah, bagus lah. Setidaknya, mereka bisa belajar untuk tenang dalam menghadapi masalah. Apakah ini karakter yang buruk?

Adakalanya, ya – saya merasa, ini agak keterlaluan juga. Maksud saya, bagaimana kalian bisa tetap tertawa, sementara kalian sedang dihadapkan pada situasi yang begitu buruk?

Saya kadang bingung dengan diri saya sendiri. Apakah ini sifat yang “tidak waras”?

Begini. Pernah suatu ketika, saya mendapat tugas dari dosen untuk membuat makalah. Salah satu kebiasaan saya adalah, saya paling tidak suka mengerjakan tugas tepat waktu – harus mepet dengan deadline, barulah ide bisa mengalir dengan lancar (mungkin ini salah satu alasan mengapa teman-teman melihat saya seolah tidak pernah sibuk dengan tugas. Yah... karena saya suka menumpuk tugas dalam satu waktu, dan beres dalam satu waktu pula, hehehe).

Saya mengerjakan makalah, malam sebelum tugas wajib dikumpulkan. Serius sekali saya kerjakan makalah itu, sampai tidak peduli kalau malam sudah semakin larut.

Beberapa jam kemudian, alhamdulillah, tugas selesai dengan baik. Ahh... leganya bukan main. Saya dengan senangnya tersenyum menikmati “hasil karya” saya. Lalu, karena saya merasa ada beberapa file  yang menumpuk dan sepertinya tidak lagi terpakai, saya hapuslah file-file itu. Lalu, eh, ada file “Daftar Pustaka”? Ah, sudah tidak terpakai lagi. Dibuang saja. Maka, klik! Dengan sekali tekan tombol delete, terhapuslah file­-file tak berguna itu. Saya bernapas dengan lega. Wah... wah... wah....
Sedetik, dua detik, tiga detik. Saya baru sadar, sepertinya, ada yang salah. Hei, bukannya tadi nama file makalah saya adalah....

Glek! Tepat sekali. Daftar Pustaka! Saya lupa mengganti nama file­-nya dengan “Makalah”, “Tugas”, atau apalah. Dan... Emmaaaaaaaaakkk.... apa yang sudah anakmu ini lakukaaaaann...??? Huaaaaaa...!!!

Serasa ingin menangis keras-keras saja! Saya frustasi! Berulang kali mencoba memeriksa ulang file, tapi percuma. Sudah terhapus dengan sangat jelas. Jejaknya pun tak terlihat di Recycle Bin karena saya menyimpan dan menghapusnya di fashdisk. Oh ya Robb... that was a terrible night!!

Saya kesal pada diri saya sendiri. Lebih kesal lagi karena teryata, di saat situasi sudah serunyam itu, saya tidak bisa menangis! Benar-benar tidak bisa menangis. Saya justru malah tertawa dan curhat di grup WA tentang kejadian yang menimpa saya. Saya sendiri heran kenapa saya malah jadi tertawa – walaupun dengan tawa yang bagi saya sendiri dirasa tak nyaman; bagaimanalah mau nyaman kalau situasinya saja seperti ini? Betapa cerobohnya. Betapa frustasi, sekaligus membingungkannya.

Saya lihat jam, oh, sudah hampir tengah malam. Bagaimana ini? Benar-benar sudah mepet, mau-tidak mau memang harus dilembur. Tapi, saya bosan mengerjakan makalah yang sama, dan tentu saja, saya harus merangkai ulang kata-kata yang sudah saya buat dan saya hapus dengan gegabah.

Akhirnya, saya memilih untuk mencari hiburan barang sejenak. Saya putar lah film Doraemon, “Stand by Me”. Baru di situ saya bisa nangis, gara-gara film. -__-

Puas nonton, semangat saya seperti di-charge kembali. Entah apakah ini efek dari melihat tekad si Nobita untuk menjadi lebih baik (untuk sejenak, saya merasa memiliki banyak kesamaan dengan Nobita, aish!). Selesai nonton, saya buat lagi makalah dari awal sampai akhir. Kapok dengan kejadian yang lalu, saya ganti nama file dengan nama yang lebih “masuk akal”. Menjelang Subuh, barulah makalah itu selesai. Ahh... alhamdulillah... pengalaman lembur yang nggak akan terlupakan!

So, kesimpulannya, mengapa saya bisa terlihat begitu tenang dan santai? Saya benar-benar tidak tahu. Kadang, saya pun ingin seperti orang kebanyakan, yang terlihat “normal” dengan menangis saat mendapat masalah, atau setidaknya terlihat sedih dan semacamnya. Tapi saya tidak... dan ini membuat saya bingung sekaligus... sedih. -.-

Bukan berarti saya tidak pernah menangis. Bukan berarti saya tidak pernah merasa putus asa. Hanya saja, bagi saya, setiap pengalaman adalah guru yang berharga. Saya sangat menghargai bagaimana cara “guru terbaik” saya itu memberikan pelajarannya. Kadang, saya dibuat sangat bahagia. Namun adakalanya, saya pun bisa dibuat merasa sangat jatuh dan kebingungan mencari pijakan. Saya seperti menemukan jalan buntu, namun ternyata, dengan usaha yang sedikit lebih keras, saya sadar kalau jalan buntu itu tidak ada. Pasti ada penyelesaian untuk setiap masalah. PASTI.


Sedari awal, saya sudah berkomitmen. Apa pun pelajaran yang saya dapatkan dalam hidup ini, saya hanya akan mengambil hikmahnya dan menikmati hidup dengan cara saya saja. Saya akan berusaha untuk menikmatinya, bahkan dalam lelah sekali pun. Bagi saya, hidup di dunia ini saja seperti sebuah wujud cinta Tuhan untuk diri saya. So, nikmati saja. Jalani saja, sambil tak pernah lepas berharap, Allah akan memeluk hangat mimpi-mimpi kita. J