Rabu, 21 Oktober 2015

SEPASANG KYUU

Cerita kita persis sepasang Kyuu.

Kamu tahu sepasang Kyuu itu apa?

Kita bertemu sekarang. Sesuai janjiku, aku akan bercerita tentang Kyuu yang sudah lama kamu tanya-tanyakan.

Apa itu Kyuu? Hehe… jangan kecewa kalau kukatakan bahwa itu hanyalah tokoh cerita dalam imajinasiku. Kyuu memiliki bentuk seperti ikan. Warna mereka cantik sekali; tak hanya satu warna, ada lebih dari tujuh dan menjadi gradasi yang indah di tubuh mereka. Ukuran Kyuu kecil sekali; bentuknya mirip kecebong, tapi, dibandingkan kecebong, ukuran mereka tiga kali lipat lebih besar.

Sepasang Kyuu menghuni sebuah akuarium yang sangaaaaat besar. Mereka suka sekali dengan “rumah” besar itu. Ada banyak rumput hias, batu-batuan bulat, karang, dan pasir putih di dasar akuarium. Airnya jernih bukan main. Sang pemilik akuarium senang merawat mereka. Sepasang Kyuu jadi betah sekali tinggal di dalamnya.

Mereka bersahabat sejak kecil. Sudah bertahun-tahun lamanya sejak sepasang Kyuu dibeli dari toko ikan, keduanya hidup bersama. Satu Kyuu dipanggil pemilik akuarium dengan nama Kyuu Merah, karena warna merah mendominasi tubuhnya. Satunya lagi yang lebih mungil bernama Kyuu Putih – tentu karena gradasi warna tubuhnya lebih banyak bergaris putih. Keduanya nyaman dengan persahabatan mereka, hampir tak bisa dipisahkan walau hanya ujung dengan ujung akuarium. Selalu bersama.

Kyuu Putih senang menggoda Kyuu Merah. Dia lebih banyak bertingkah dan memancing Kyuu Merah berenang mengejarnya; kemudian, Kyuu Putih akan berenang menjauh, bersembunyi, ditemukan Kyuu Merah, dan mereka tertawa bersama. Kalau tidak diganggu begitu, Kyuu Merah lebih banyak diam dan mengamati sahabatnya yang lincah bermain-main. Begitulah. Mereka berbeda, tapi saling mengagumi satu sama lain.

Suatu hari, datang sahabat sang pemilik akuarium. Dia heran, mengapa kolam sebesar itu tak dihuni makhluk sebijipun. Sang pemilik akuarium tertawa dan mengajak sahabatnya mendekat ke kaca akuarium. Dibalik rumput hias, ada sepasang binatang mungil berwarna-warni yang asyik berputar-putar. Dia menjadi takjub bukan main dan bertanya, apa itu. Pemilik akuarium menjawab, “Kyuu. Sahabat setia sejak kecil.”

“Aku mau satu!” sahabatnya berseru antusias, “Boleh?”

Sang pemilik akuarium terdiam. Sepasang Kyuu mendengar pembicaraan mereka dan berenang surut ke belakang, bersembunyi dibalik karang.

“Bisa kamu berikan satu untukku?” sahabatnya meminta lagi. Sang pemilik akuarium tampak keberatan, tapi akhirnya, dia tersenyum dan mengangguk juga, “Baiklah.”

Sepasang Kyuu merapat ketakutan dibalik karang ketika tangan si pemilik akuarium diulurkan masuk ke dalam air, mencari mereka di sela-sela bebatuan. Jemari itu masuk ke lubang karang, dan sepasang Kyuu berenang menjauh, keluar dari persembunyian mereka, tapi, hap! Sebuah jaring memerangkap Kyuu Merah dan mengangkatnya naik ke permukaan. Kyuu Putih berusaha mengejar, tapi terlambat. Kyuu Merah berteriak meminta tolong, tapi tak ada yang mengerti arti teriakannya selain Kyuu Putih. Sekejab saja, sahabat Kyuu Putih itu sudah masuk ke dalam kantong plastik berisi sedikit air. Sahabat pemilik akuarium mengikat simpul bagian mulut plastik dan menyisakan pengap di ruang sempit Kyuu Merah. Dia tertawa senang dan menepuk bahu sahabatnya penuh terima kasih, lalu pulang membawa Kyuu Merahnya dengan sangat riang.

Sepasang Kyuu berteriak saling memanggil. Tapi tak ada yang mengerti arti teriakan mereka….

Bagaimana perasaanmu? Apa menurutmu cerita ini menarik? Memang tidak ada apa-apanya, hanya sebuah cerita sederhana yang tokohnya bahkan tak pernah ada di dunia. Entah bagaimana caramu membayangkan bentuk Kyuu itu. Apa yang tergambar di benakmu seperti ikan koi warna-warni? Atau, seperti kecebong kecil yang anehnya punya banyak gradasi warna? Di benakku, Kyuu tergambar dengan sangat cantik. Kalau masih bingung, biar nanti aku gambarkan seperti apa Kyuu-ku itu.

Kyuu Merah dibawa tinggal di rumah sahabat pemilik akuarium. Sekarang, masing-masing mereka punya satu Kyuu. Tapi, baik Kyuu Merah atau Kyuu Putih, keduanya tak punya siapapun lagi.

Kyuu Putih kesepian. Satu hari berlalu, Kyuu Merah yang dinantinya tak juga kembali. Dua hari… tiga hari… empat… lima…. Berhari-hari sampai bermiggu-minggu lamanya tak ada yang kembali. Kyuu Putih berenang-renang dengan gelisah, tapi pemilik akuarium melihatnya sebagai ikan yang lincah. Makhluk kecil yang tak paham apa itu kehilangan. Kyuu Putih berenang-renang mengitari karang, menyelisip di sela-sela rumput hias, menempel dari satu batu ke batu yang lain, dan menenggelamkan diri ke dalam balutan pasir putih. Itu juga yang dilakukannya ketika Kyuu Merah ada di situ. Tapi kali ini, dia melakukannya seorang diri.

Sendiri…. Kesepian….

Berbeda dengan Kyuu Merah. Di akuarium barunya yang hanya seukuran mangkuk, Kyuu Merah diam seperti telah mati. Sahabat pemilik akuarium heran mengapa Kyuu miliknya jadi setenang itu. Tak mau berenang, tak mau bergerak. Hampir tak pernah makan. Dikira sudah mati, Kyuu Merah disentuhnya dengan ujung jari. Kyuu melompat di dalam air, menghindar dengan marah. Sahabat pemilik akuarium tertawa karena terlalu paranoid, tapi setelah itu, Kyuu Merah benar-benar tak mau bergerak lagi.

….

Menurutmu, apa yang akan terjadi pada mereka? Bisa kamu tebak? Coba hubungkan dengan cerita kita selama ini. Memang tidak sepenuhnya sama, tapi kupikir, ini mirip sekali.

Nah, sekarang, ada tokoh baru bernama Kyuu Biru. Kyuu satu ini cantik sekali. Sahabat pemilik akuarium mendapatkannya dari sahabatnya yang lain, yang kebetulan sama-sama memelihara Kyuu. Kyuu Biru ditempatkannya dalam satu wadah bersama Kyuu Merah, sambil mengatakan, “Nah, kamu dapat teman sekarang. Jangan diam terus. Kyuu Biru akan jadi teman yang baik untukmu.”

Bertemu dengan Kyuu Merah, Kyuu Biru tersenyum dan menyapa, “Hai, aku Kyuu Biru.”

Kyuu Merah hanya menyahut sekilas, “Aku Kyuu Merah.”

“Senang bertemu denganmu. Kuharap, kita berdua bisa menjadi teman baik dari sekarang,” kata Kyuu Biru antusias.

Tapi, mereka tak pernah bisa menjadi sahabat sejati. Kyuu Merah tidak suka dengan Kyuu Biru. Dia sok cantik, sok manis, sok imut….

Eh, jangan berpikir aku menganalogikan ini dengan seseorang, ya. Ini hanya dongeng, oke?

Kyuu Merah ingin bertemu dengan Kyuu Putih. Tak ada bedanya dia kesepian atau ditemani Kyuu Biru. Dua keadaan itu sama menyebalkannya.

Melihat tak ada yang berubah, sahabat pemilik akuarium jadi bosan sendiri. Kyuu Biru sudah cukup lincah dan menyenangkan untuk dilihat, apa gunanya memelihara makhluk kecil yang tak mau makan, tak mau bergerak, bahkan terlihat seperti sudah hampir mati? Nyaris saja Kyuu Merah dilemparkannya ke luar jendela, tapi, suara si pemilik akuarium menahan ulahnya.

Dia terkejut, tahu-tahu sahabatnya ada di rumahnya. lebih terkejut lagi, si pemilik akuarium itu membawa serta Kyuu Putih miliknya di dalam sebuah kantong plastik.

“Jangan dibuang. Masukkan ke sini. Mereka bersahabat sejak lama, pasti tidak menyenangkan harus berpisah selama ini.”

Sahabatnya meringis geli, berpikir bahwa si pemilik akuarium terlalu berlebihan. Tapi, dimasukkannya juga Kyuu Merah ke dalam kantong plastik itu.

Terdengar Kyuu Putih memanggil-manggil namanya. Kyuu Merah nyaris saja mati, dan demi mendengar suara yang lama ditunggunya itu, Kyuu Merah kembali bergerak dalam air. Kyuu Putih mendekatkan kepalanya ke kepala Kyuu Merah; menempelkan ekor mungilnya ke ekor sahabatnya. Kyuu Merah terkejut dan senang bukan main melihat sahabatnya kembali. Dia berenang dengan lincah di kantong kecil itu. Kyuu Putih tak kalah lincahnya. Keduanya berpelukan dengan cara mereka – saling menempelkan kepala dan ekor, lalu berenang berputar-putar tanpa terlepas.

Kedua orang itu terkaget-kaget sendiri dengan tingkah peliharaan mereka. Si pemilik akuarium lekas berbalik pulang dan melepaskan Sepasang Kyuu berenang di “rumah” mereka. Akuarium yang sama. Sahabat yang sama. Kegembiraan yang sama. Dan, beginilah cara sepasang Kyuu melepaskan kegembiraan mereka.
(Aku menggambar dengan spidol di selembar kertas)



Menurutmu, Sepasang Kyuu mirip dengan apa?

Kalau kamu senyum, berarti kamu tahu. Tebak, apa, coba?

(Kamu meraih kertas dan mengambil beberapa spidol, lalu menggambar sesuatu di kertas itu. Katamu, “Iya, aku tahu. Mirip dengan ini.”)



(Giliran aku yang tersenyum.)
*****

Minggu, 11 Oktober 2015

The Thing Called "LIFE"

Senin, 12 Oktober 2015

Tiga hari lagi, usia Ibu genap limapuluh tahun. Aku kayak baru sadar, kalau hidup ini cepat sekali berjalan.

Kemarin, pas ikut jadi ATS di UNS, obrolan di mobil selama perjalanan banyak didominasi soal pernikahan. Ada, lah yang pengen cepet-cepet nikah, cepet wisuda, cepet kerja... punya cita-cita ini dan itu. Dan, hh... lagi-lagi aku seperti baru tersadar. Kita begitu cepat menjadi dewasa.

Ada kabar duka. Kakak yang kami sayangi, saudara yang kami kasihi, yang pernah menjadi bagian dari cerita indah di kota rantau, sudah terlebih dahulu dipanggil Allah. Aku nggak pernah seterkejut itu sebelumnya mendengar berita kematian. Sempat berharap ada keajaiban, tapi, sudah terlambat. Berusaha untuk nggak nangis, tapi susah buat ditahan. Keinget sama senyumnya, caranya menyapa, caranya bercerita.... Kangen. Satu lagi bukti kalau hidup ini begitu singkat.

Banyak pelajaran yang aku dapat selama dua hari kemarin. Bahwa ternyata, hidup hanya punya tiga fase: pertemuan, cinta, dan perpisahan. Kadang, aku jadi takut. Pertemuan dengan orang-orang yang kusayangi selalu membuat bahagia, tapi suatu saat nanti, mau-nggak mau pasti ada akhirnya. Bertemu dan berpisah. Berpisah dan entah kapan bisa kembali dipertemukan.

Bagaimana pun, aku berharap kalian bahagia. Aku berharap kalian tersenyum; tegar dalam keadaan sepahit apa pun. Aku mungkin jarang sekali bilang sayang, tapi kalian begitu dekat di hati.

Ya Allah... aku mungkin belum siap dengan segala kemungkinan adanya perpisahan. Tapi, semoga suatu saat nanti kita dipertemukan di surga-Nya. Reunian sama-sama. Tersenyum sama-sama. Terharu dengan keagungan Allah yang menampakkan wujudnya. Teman... itu keindahan paling indah yang semoga bisa kita rasakan. :)

Untuk kakak, sekaligus saudara yang telah meninggalkan kami, kami mencintaimu. Sungguh. Dengan segala keterbatasan--jauhnya jarak dan komunikasi kita dulu--Kakak tetap ada di hati kami. Bahkan hingga saat ini, esok, nanti dan seterusnya. Allah sayang sama Kakak. Semoga Kakak tenang di sana ya....

Aku nggak akan nangis lagi. Aku nggak mau urusan Kakak diperumit karena aku terlalu cengeng. Doaku menyertaimu, Kak. Semoga Kakak bisa tersenyum dan menunggu kami dalam damai. Miss you. Semoga kami bisa khusnul khotimah. Aamiin.

Oktober nanti, banyak kakak yang wisuda. Hh... perpisahan lagi. Banyak. Sekaligus. Bukan satu-satu. Mana sama-sama di kota rantau. Suatu saat nanti, kita kembali ke rumah masing-masing. Makin jauhlah jaraknya. Kangen. Walaupun belum benar-benar diwisuda, tapi udah sedih duluan. Duh, harusnya, kan senang, terharu. Tapi ini malah jadi sedih. :'D

Aku akan mengingat hari-hari kita bersama. Semoga persaudaraan ini nggak pernah putus ya, teman. Wherever you are, I miss you.

So much. :)
*****

Selasa, 22 September 2015

INSYAALLAH~~

A: "Nanti ikut rapat ya, jam empat sore. Di tempat biasa."
B: "Insyaallah"
A: "Ditunggu pokoknya."
B: "Iya, insyaallah."
A: "Kok 'insyaallah'? Janji dong!"
B: "Iya kan aku udah bilang insyaallah--"
A: "Nggak boleh bilang gitu, harus dateng pokoknya!"
B: "...???"

***
Bingung jadinya kalau ada yang menagih bilang "janji" seperti contoh di atas. Memangnya, kenapa kalau bilang "insyaallah"? Apa itu sesuatu yang dilarang?

Please, coba angkat tangan, siapa yang berpikir kalau "insyaallah" sama aja artinya dengan "nggak janji"? Hayoo... pasti sebagian dari kalian ada yang "memanfaatkan" kalimat thayibah nan mulia itu untuk menunda, bahkan mengingkari janji. Ada? ADA!

Padahal, "insyaallah" mempunyai makna "jika Allah menghendaki". Artinya, kalau kamu udah buat janji, kamu dalam kondisi sehat, masih bernyawa, masih punya napas, dan diberi kesempatan+waktu, itu artinya, kamu DIIZINKAN sama Allah. Kalau sampai kamu ingkar janji, duh, itu mah bukan "insyaallah" lagi namanya. Itu kamunya aja yang nggak mau, malas gerak, malas ambil kesempatan yang ada. Jangan malah nyalahin "insyaallah"....

Jika kamu berkata "insyaallah", itu artinya kamu sudah berjanji. SAMA DENGAN janji. Bedanya, kalau tiba-tiba (wallohu a'lam) jatuh sakit, ada halangan yang benar-benar mendesak, atau dicabut nyawanya oleh Allah, maka itu sudah jadi bagian dari ketentuan-Nya, dan kamu nggak dianggap mengingkari janji. Coba kalau bilangnya "Janji!", trus tiba-tiba ngalamin hal yang di atas. Gimana caranya kamu menepati janji, padahal ketentuan Allah yang lain sudah berlaku?

Apakah Rasulullah pernah mendidik kita untuk ingkar janji? Apakah Rasulullah pernah mengajarkan, "Kamu kalau males nepatin janji bilang insyaallah aja yaa??" Pernah? Hmm....

See? Nggak ada yang salah dari kata "insyaallah". Jadi, gunakan kata ini ketika engkau berjanji dan usahakan untuk menepatinya. Setuju? ^-^
***

Untuk saudara-saudaraku di jalan Allah. Ana uhibbukum fillah~~

Rabu, 26 Agustus 2015

CINTA UNTUK KANGMAS OPERATOR _ (Cerpen)

Tisa lagi sibuk dengan setumpuk buku-buku berbahasa Inggrisnya. Di sebelahnya, si Farah asyik saja mengangguk-angguk dengan earphone di telinga. Mulutnya ngoceh merapal lirik lagu. Buku-buku sastra Indonesia juga numpuk di sebelah, tapi disentuh pun tidak.

"Belajar woy, nyanyi mulu kayak suaramu bagus aja," Tisa susah konsentrasi di samping Farah. Teman sekosannya itu kalau sudah asyik paling nggak bisa diganggu.

"Males ah, bentar lagi juga belajar," entah udah berapa kali kalimat itu dia ulang-ulang. Ponsel terus yang dia perhatikan. Tiba-tiba, sambil nyengir, dia nyeletuk, "Masih zaman aja ya, sms penipuan kayak gini."

"Apaan?"

"Nih, barusan aku dapat sms. Ngakunya, sih dari operator. Katanya aku dapat hadiah motor Mio...."

Tisa nyengir, geleng-geleng kepala. Ah, itu mah udah biasa.

Mereka kembali dengan kesibukan masing-masing.

Nggak lama kemudian, Farah berhenti menyanyi.

"Halo?" dia perbaiki posisi earphone-nya. Ada yang telepon rupanya.

"Siapa ya?"

Tisa perhatikan, raut wajah Farah serius sekali. Kemudian, dia nyengir, lantas serius lagi.

"Hah? Masa sih, Mas? Beneran?"

Tisa mendekat. Bertanya lewat gerak bibir tanpa suara. 'Apaan, sih?'

"Mas-mas yang ngaku dari operator," Farah mencabut earphone dan menyetel ponselnya ke mode loudspeaker. Bukan Tisa yang minta, tapi Farah antusias sekali ingin menunjukkannya.

"... Halo, Mbak?" terdengar suara dari seberang.

"Cuekin aja, sih...." bisik Tisa tak digubris si empunya ponsel.

"Eh iyaa... halo, Mas...??" Farah girang bukan kepalang.

"Iya halo... jadi, Mbak... dengan... Mbak siapa?"

"Farah."

"Oh, Mbak Farah ya? Mbak Farah dengan nomer 085229xxxxxx... betul?"

"Iya betul."

"Iya, Mbak Farah, selamat ya... Anda adalah pemenang undian TelkomsayPoin dan berhak mendapatkan hadiah satu unit sepeda motor matic dari Telkomsay...." suara di seberang terus saja mengoceh. Nggak sadar kalau yang ditelepon malah asyik manyun-manyun menirukan suaranya sambil menahan tawa.

Melihat tingkah temannya, Tisa mau-nggak mau jadi abai dengan tugas kuliahnya. Menarik. Farah bisa aja ngerjain orang.

"Ya Allah, Maas... ini beneran, Mas?? Serius? Saya dapat motor??"

"Iya, Mbak...."

"Mas nggak becanda, kan? Serius? Beneran??"

"Iya, Mbak Farah____"

Kyaaaa... Ya Allah alhamdulillaah... alhamdulillaah... saya mau punya motooor...! Dikirim ke sini kan, Mas... iya, kaaan...??"

Lebay juga ini si Farah.

"Iya Mbak, nanti minta tolong Mbak kirimkan alamat lengkap Mbak Farah ya.... Dan sebelumnya Mbak, untuk mendapatkan hadiah tersebut, dimohon memenuhi ketentuan yang berlaku. Mbak Farah bisa...."

Si Mas ngoceh terus di seberang, menyebutkan syarat-syarat yang nggak didengerin Farah, malah lawan bicaranya itu keasyikan ngikik di ruang tamu kosannya. Tisa nggak kalah gemas dengerinnya. Ini anak serius banget becandanya.

"Halo, Mbak?" si Mas cari perhatian lagi.

"Eh, iya Mas... saya masih di sini...."

"Iya, jadi bagaimana, Mbak Farah?"

"Apanya, Mas, yang gimana?" berlagak telmi si Farah ini.

"Tadi saya sudah sebutkan syarat-syaratnya... saya ulang ya...."

"Nggak, Mas, nggak usah, saya ingat, kok. Mas beneran, kan...??"

"Iya, Mbak. Saya manager di operator ini____"

"Alhamdulillaah... saya seneng banget lho, Mas...."

"Iya, alhamdulillah ya, Mbak ya...." si Masnya nyahut aja.

"Mbak Farah, ada dua pilihan warna motor, Mbak ingin yang biru atau yang merah?"

Agaknya serius betul si mas-mas ini mau nipu orang.

"Udah warna apa aja, Mas. Asalkan Mas yang pilihin, saya mau!!" Farah mulai ngelantur.

"Iya Mbak, baiklah kalau gitu____"

"Mas Joko?"

"Ya? Eh, nama saya Edi, Mbak."

"Iya, saya manggil tukang bakso lewat."

Tisa cekikikan. Mana ada tukang bakso?

"Mas Edi...."

"Iya, Mbak Farah?"

"Saya senang bisa kenal sama Mas."

"Iya Mbak, sama-sama. Saya juga... eh?"

"Mas tahu? Saya pengen nyanyi buat Mas, sebagai ucapan terima kasih dari saya. Mas dengerin ya...?? Suara saya bagus, lho...."

Mas Edi ketawa. Sebelum si Mas bilang apa-apa, Farah sudah mulai bernyanyi.

"Hari ini... adalah lembaran baru bagikuu...."

Tisa kepingkal-pingkal nutupin wajahnya pakai bantal. Anak-anak kosan yang lain tiba-tiba saja jadi ikutan nimbrung. Masih sambil nyanyi, Farah kasih kode.

"Inilah... diriku... dengan melodi untukmuuu... SEMUANYA!"

"DAN BILAA... AKU BERDIRIII... TEGAAR... SAMPAI HARI INII... BUKAAAN KARNA KUU...AT DAN HEBATKUU...UUU...."

Anak-anak sekosan ramai bikin paduan suara. Tisa tambah kepingkal-pingkal. Farah membekap mulutnya pakai bantal. Parah si Tisa mah, ngakaknya nggak ketulungan.

Di seberang sana, Mas Edi nggak mampu berkata-kata. Yang ditelepon asyik bikin paduan suara tanpa jeda. Bukan cuma sampai reff, tapi sampai kelar itu lagu.

"SEMUAA... KARENA CINTAA...."

"Ee... Mbak...."

"SEMUA... KARENA CINTAA...."

"Mbak...?"

"TAK MAAAMPU DIRIKU... DAPAT BERDIRI TEGAR... TERIMA KASIH CINTAA...."

"Hh... Mbak Farah?"

"TRIMAKASIH... CINTAA...!"

"Mbak...??"

"Gaes, Yovie and Nuno, Manusia Biasa. Jeng-jeng-jeng--MASIH KUINGAAT SELALU... SAAT KAU BERJANJI... PADAKU... APAA...??"

"TAKKAN PERNAH ADA CINTA YANG LAINNYA, TERASA BEGITU INDAAAAAAHH...!!"
*****

SERIUS _ (Cerpen)

Aku nggak tahu kenapa dia pengen banget berbicara empat mata sama aku. Aku cuma mesem sambil beralasan, "Entar yang ketiganya setan, loh."

Dia senyum masam, lalu dengan agak terpaksa memberiku sebuah penawaran, "Ya udah, kamu boleh ngajak teman, siapa aja."

Aku senyum pas dia ngomong begitu. Pasti ada hal penting yang sangat ingin dia sampaikan.

Di sini, sekarang. Aku duduk di rerumputan tepi danau kampus. Tempatnya sepi, hanya ada aku, dia, dan tiga orang temanku. Dia agak kaget pas tahu kalau ternyata, aku bawa teman lebih dari satu orang. Tapi kelihatannya, dia nggak keberatan. Tetap saja, akhirnya toh malah cuma aku yang dia ajak bicara. Lainnya, pada asyik sendiri jalan-jalan sambil foto selfie. Dasar!
*****

"Aku serius lho, Nin, sama kamu."

"Serius apanya?"

Dia berdecak; agak sebal kelihatannya, "Kok nanya lagi? Serius kalau... aku suka sama kamu."

Aku nunduk. Iya sih, dia sering kasih "sinyal" sama aku. Terlalu sering untuk nggak bisa aku sadari. Tapi, aku takut. Khawatir kalau ternyata, dia nggak bisa serius.

"Masa?" aku nanya asal.

"Apanya?" dia mulai geregetan, "Kamu nggak lihat aku sampai ngotot begini?"

Aku tertawa. Sejujurnya, aku deg-degan banget. Selama ini, kita cuma berteman. Biasa saja. Ngobrol juga nggak canggung, nggak ada perasaan berdebar-debar atau yang semacamnya. Makanya, aku agak bingung bagaimana cara menanggapi.

"Gimana?" dia meminta kepastian.

"Apanya yang gimana? Kalau emang serius, katakan itu sama orang tuaku," aku tersenyum lebar. Sungguh, aku asal nyeplos sebenarnya. Niat hati kepengin menguji keseriusan dia.

Dia diam sebentar, "Jadi, aku boleh datang ke rumahmu?"

"Datang aja."

"Oke. Kalau gitu, dua minggu lagi."

"Apanya?"

"Ke rumah kamu, lah. Sama orang tuaku juga."

Aku terbelalak. Ha? Orang tua?? Seriusan, nih?!

"Mau... ngapain?" tanyaku ragu-ragu.

Dia mengangkat alisnya dengan nakal, "Ngelamar kamu, lah. Apa lagi?"

Pikiranku nge-blank. Aku sampai nggak sadar terbengong-bengong setengah melamun. Masih nggak bisa menyerap seutuhnya atas apa yang aku perbincangkan dengan dirinya.

"Datang aja," aku nyeplos lagi. Pengen nantang. Pengen tahu. Padahal, duh! Dia serius banget, Nindiii... kamu nggak bisa lihat itu?! Pengen rasanya kuketok kepalaku sendiri. Duh, dasar!

Pikiranku butek, sebutek air di danau kampus.
*****

Ya Allah... dia beneran serius ternyata!

Aku masih mengunci diri di kamar, belum berani keluar. Aku lihat, dia dan keluarganya turun dari mobil. Bapak dan Ibu menyambut mereka.

Aku ngaca di cermin. Penampilanku sudah rapi. Pakai gamis merah jambu dan kerudung lebar segi empat dengan warna putih semi-semi pink. Ibuku yang pilihin. Aku jadi kelihatan cantik. 'Demi hari ini.' Padahal, asli, aku masih setengah sadar sama apa yang akan terjadi.

Ya Allah... hari yang mendebarkan. Ternyata hari ini benar-benar tiba. Aku pikir dia "slenge'an". Makanya, aku suka nggak serius kalau nanggepin dia. Nggak nyangka, dia jauh lebih serius dari yang aku duga.

Tanganku berkeringat dingin. 'Aku mau pingsan!'

Tapi, sambil bercermin, aku tersenyum walau agak dipaksakan. 'Oke fine. Nin, it's serious.'

Entah mengapa, aku merasa berbunga.
*****

CINTA DALAM HATI

Menjadi orang yang pendiam itu... serba dilematis. Ingin rasanya mengungkapkan sesuatu, tapi hanya bisa membahasakannya dalam diam. No words, no speak. Segalanya cuma bisa dipendam dalam hati.

Ada keinginan bicara, tapi tidak bicara. Punya hasrat berseru, memekik, memuji, berkeluh kesah; semuanya hanya disimpan untuk diri sendiri. Kasmaran, suka, cinta, cemburu, marah, benci....

Orang-orang introvert punya pelampiasan sendiri untuk menumpahkan isi hatinya. Bukan dengan lisan --barangkali salah satunya dengan tulisan. Menulis, mencorat-coret, menciptakan berlembar-lembar diary sampai hilang beban di hati.

Walau tak diucapkan, ia punya cara tersendiri untuk mencintai. Ada doa yang dipanjatkan. Ada pengharapan tulus yang lirih ia ucapkan. Ada namamu yang ia sebut. Ada raut wajahmu yang ia bayangkan.

Dia yang tak banyak bicara, barangkali tidak banyak memberi makna. Tapi, dia punya cukup banyak cinta yang dia bagi untuk setiap nama yang disebutnya dalam doa.

Dia, yang menunduk malu tiap berpapasan denganmu. Yang hanya bisa tersenyum untuk setiap perhatianmu. Ketahuilah; ada cinta dalam hati yang amat ingin ia bagi.
*****

CUEK

Cuek. Punya karakter yang satu ini memang gampang-gampang susah. Orang yang cuek biasanya dihindari, didiamkan, nggak ditarik untuk membaur. Apalagi kalau baru kenal. Apalagi kalau belum sepaham.

Punya karakter cuek, di sisi lain juga menguntungkan. Nggak gampang sakit hati, itu salah satunya. Entah nggak peka atau karena nggak mau ambil pusing, orang yang cuek biasanya gampang lupa dengan masalah. Bawa enjoy saja, ngapain dipikir berat-berat. Disinggung, disindir, diolok, diomongin di belakang, santai saja. "I have my own world and you can't disturb it." Itu prinsipnya.

Ngomong sama si cuek barangkali agak menyebalkan. Kayak nggak didengerin, kayak nggak bisa diajak serius. Padahal, si cuek juga ternyata punya sifat jujur dan pantang ingkar janji. Kalau toh benar ada janji yang ia ingkari, akan ada perasaan sesal dalam dirinya dan tekad untuk memperbaiki diri. Biarpun cuek, pantang bikin orang merasa sakit hati.

Tapi, kalau si cuek sudah bosan, jangan harap dia bisa kamu paksa-paksa. Butuh waktu untuk dia menyesuaikan diri antara mood dengan kenyataan dan kebutuhan yang mendesak. Mood si cuek memang gampang berubah-ubah, dan bisa jadi sangat drastis. Nggak heran, semenit tadi dia suntuk, menit berikutnya bisa ketawa-tawa.

Yaa... meskipun mungkin nggak semua orang cuek punya karakter kayak gitu, at least, saya sebagai orang-agak-cuek memang seperti itu. Nyiehehee....

Sekian.