Selasa, 09 Juni 2015

ALLAH, AKU JATUH CINTA! (Fenomena Organisasi dan Cinta)


“Duh… tuh si Mas A lucu banget, sih… gokil, bikin ketawa mulu kerjaannya,” seorang gadis cekikikan sambil bercerita tentang ulah seorang temannya. Yang mendengarkan cerita manggut-manggut sambil tersenyum, tahu betul bahwa yang diceritakan adalah teman satu organisasi mereka. Keduanya menikmati cerita sambil sesekali tertawa bersama.

“Dia emang gitu orangnya. Aku aja pernah lho, suatu hari ngobrol sama dia tentang –blalabla….” Cerita disambung oleh si teman, masih dengan tokoh yang sama. Begitu seterusnya, keduanya saling menceritakan “si Mas” yang kedengarannya begitu istimewa.
            
Di lain tempat….
‘Duh, kayaknya, aku naksir sama akhwat B. gimana ya caranya, supaya dia tahu kalau aku suka sama dia? Tapi… kalau sampai teman seorganisasi tahu, bisa runyam urusan,” seorang lelaki gelisah memegang ponselnya. Ragu-ragu antara ingin menuruti hasratnya menelepon “seseorang” atau berusaha tetap tenang dengan perasaannya.

Lain tempat lagi….
Drrrtt…! Ponsel bergetar tanda ada pesan masuk. Seorang gadis, begitu membaca nama yang tertera, langsung semangat membuka inbox-nya.
C : besok jangan lupa datang rapat, ya. Penting, ada yang mau dibahas.
Si gadis tersenyum, dengan cepat membalas pesan.
D : Iya… tau… nggak usah disuruh juga pasti datang.
C : Wah… kamu memang rajin sekaliii…. Nggak salah organisasi ini memilih kamu….
D : Hahaa… bisa ajaa, aku jadi maluuu….
Obrolan via ponsel terus berlanjut. Jika itu obrolan dengan lisan, kelihatannya, orang lain akan menangkap itu sebagai hal yang terkesan… apa ya? Mesra? Ehem….
*****

Membaca tulisan saya di atas, antum sudah bisa menebak saya ingin membahas soal apa? Kalau antum pernah punya pengalaman organisasi, yang mana organisasi itu bukan hanya berisi ikhwan (laki-laki) saja atau akhwat (perempuan) saja, melainkan membaur antara keduanya, tentu antum paham apa maksud saya. Hehehe….

Organisasi. Kalau boleh saya terjemahkan secara bebas, organisasi adalah kelompok yang bisa kalian manfaatkan untuk mengasah softskill dan mendapatkan pengalaman yang nggak akan kalian dapatkan dengan sekadar teori di bangku sekolah atau kuliah (wueess… keren gilak nggak tuh? :v). Bener, kan? Bahkan adakalanya, – terutama banget nih buat kalian yang lagi kuliah, dimana masa-masa itu biasanya lebih banyak waktu senggang daripada pas kalian masih sekolah – organisasi jadi lebih diutamakan ketimbang pendidikan. Iya nggak, sob? (Saya aja kadang gitu kok, moody banget urusan belajar. Lebih enak belajar dari pengalaman, eeaaa…!)

Lalu, apa aja yang bisa kalian dapatkan dari sebuah organisasi? Wuah, banyak! Pengalaman, asah keterampilan, asah otak (ribet ngurus acara dan dikejar deadline, sementara tugas lain di luar organisasi menunggu untuk diselesaikan), menambah teman, menambah pengalaman, termasuk… ehm, ada juga yang memanfaatkan organisasi sebagai ajang “bertemu si doi” (cuiwit!). Aduh… ada udang dibalik bakwan, nih.

Memang ya, guys, interaksi antarsesama anggota organisasi menjadi hal yang tidak terhindarkan lagi. Pasti lah ya, yang namanya komunikasi dan saling kerjasama antaranggota itu sangat dibutuhkan. Kalau nggak gitu, acara dan kegiatan yang direncanakan nggak akan bisa berjalan. Taapii… sepertinya… ada hal lain yang perlu antum perhatikan. Apa sebenarnya tujuan kalian masuk dan berkontribusi dalam organisasi?

Niat. Satu hal itu akan sangat berpengaruh terhadap apa yang selanjutnya akan kalian kerjakan. Untuk apa organisasi tersebut menyelenggarakan kegiatan? Tentu semua itu ada maksudnya. Ada tujuan yang ingin kalian capai. Oleh karenanya, sekali pun organiasi itu menuntut banyak tenaga dari kalian, sampai kalian capek dan pusing kepala sendiri, kalian akan tetap memperjuangkannya hingga berhasil. Bahkan, begitu acara sudah terselenggara pun, kalian masih bersedia meluangkan waktu untuk melakukan evaluasi. Mencari-cari letak kesalahan, bersedia menerima kritikan, demi perbaikan untuk acara selanjutnya.

So, saya ingin mengajukan satu pertanyaan: Lelah kalian itu untuk apa? Atau, untuk siapa?

Tahukan kalian? Berorganisasi juga bisa bernilai ibadah, lho. Katakanlah kalian ingin mengadakan kajian dalam rangka hari besar tertentu, yang mana kajian itu berisi tentang nasihat-nasihat baik; atau semisal kalian ingin mengadakan seminar dan mendatangkan para pakar; atau menabung bersama, mencari dana bersama, bisnis dadakan bersama demi keberlangsungan sebuah acara yang akan mengundang dan melibatkan banyak orang di dalamnya… lalu orang-orang yang mengikuti acara kalian merasa termotivasi dengan ilmu baru yang didapatkan… itu adalah tabungan kalian, sahabatku. Tabungan pahala, tabungan amal jariyah – apalagi jika orang-orang yang pernah terlibat terus berusaha mengamalkan kebaikan yang kalian tanamkan. That’s great! Kalian keren, Sobat! Pahala mengalir dengan lancar walau pun lelah kalian sudah berkurang dan hilang.

Tapi, sekali lagi, sobat, niat. Niat kalian melakukan itu dalam organisasi untuk apa? Apakah benar niatan kalian sudah lurus?

Eits, tunggu. Niat yang lurus? Niat yang seperti apa itu?

Lillah. Semua yang dilakukan berlandaskan cinta dan pengorbanan untuk Allah. Apa maksudnya? Antum tentunya sudah paham seperti apa itu niat yang lillah. Bahwa ketika kita merasa lelah, kita tidak lantas berputus asa. Ketika kita merasa jenuh, kita tidak lantas meninggalkannya. Semua usaha yang dilakukan, dilandaskan pengharapan akan mengalirnya pahala untuk kita. Bahwa kita melakukan hal itu untuk berjuang di jalan-Nya. Asek….

Lantas, sobatku. Apakah semua rasa lelah kita sudah pasti menuai pahala?
Apakah usaha kita sudah pasti diridhoi oleh-Nya?
Apakah niatan kita dapat diterima sebagai amal ibadah?

Hahaha… saya nggak lagi sok serius lho ini. Memang serius. Karena, pada kenyatannya, tidak semua lelah yang kita usahakan bisa bernilai pahala. Waduh, kan bahaya?

Tentu ini bukan sekadar hal yang bisa dianggap remeh. Sudah capek-capek, berhari-hari mikir, berhari-hari sibuk, menguras uang-waktu-tenaga… tapi ujung-ujungnya? Nol besar! Kan sayang.... trus, capek dan keringetnya kita yang kemarin kemana aja? Buat apa?

Ups, o-oww… rupanya, ada hal lain yang jadi inceran! Bukan lagi pahala. Atau, pahalanya nanti aja lah. Asal… bisa ketemu sama si dia….

Ealaah… lagi kena VMJ toh…. Itu tyuuuu… Virus Merah Jambon…. Hehehe….
Mumpung bisa ketemu sama ikhwan A, bisa ngobrol sama akhwat B, bisa sibuk bareng sama si C…. eeh, giliran si ABC yang dimaksud nggak dateng, lemes sendiri jadinya. Malas ah ikut rapat. BĂȘte ah ikut kegiatan. Capek nih, nggak ada yang nyemangatin. Bosan nggak ada si dia….

Duh… sedih banget jadinya. Yang tadinya udah semangat karena bakal ketemu sama si doi, akhirnya jadi bad mood gara-gara si doi yang ditunggu lagi berhalangan hadir. Rapat jadi nggak konsen, apalagi di kegiatannya langsung. Yang tadinya power kayak udah full charged, mendadak jadi low battery. Percuma ikutan, kalau yang bikin semangat malah nggak ada…. T-T

Sedihnya lagi, kalau ternyata di dalam organisasi yang sama, ada yang terlibat cinta segitiga, segi empat, pentagonal, heksagonal…. Duuh… nggak tahan…. T-T Nggak kebayang gimana kacau-balaunya hati ini. Kalau digambar, bakalan ruwet banget mirip benang kusut. Urusan hati memang syelaaalu bikin otak mumet. Si A suka sama si B, B suka C, C suka D, D suka EFGHIJ. Mak… mau cemburu juga gimana…. Mereka sering bareng pun ada alasannya, kesibukan organisasi. Mau kita marah juga gimana, toh mereka punya maksudnya, demi organisasi. Sial, organisasi dijadiin alasan. Enak bener sih dia! *ceritanya lagi cemburu* Kenapa sibuknya nggak sama aku aja? Kenapa kemana-mana minta ditemenin sama dia? Aku toh kerjanya bisa lebih baik daripada dia. Iyuh!!

Dududuh… Nggak enak banget deh rasanya, kalau udah begini kejadiannya. Padahal, organisasi yang kita ikuti membutuhkan semangat dan tenaga kita. Kalau udah begini, siapa yang bertanggungjawab atas kegalauan yang menyusup ke hati? Siapa lagi yang bisa mengobati? Butuh penawar, tapi apa lagi kalau bukan si dia….?? Parahnya lagi kalau ceritanya udah masuk wilayah cemburu-cemburuan. Bisa kacau lagi urusan. Yang berteman bisa saling memunggungi, yang berkawan bisa saling menjauhi. Yang tadinya doyan bercanda jadi doyan ngegosip… ckckck….

Nah, guys. Sekali lagi, niat. Bukankah berkecimpung di organisasi memang selalu butuh pengorbanan? Tidak heran kalau kita sampai harus jungkir-balik-banting-tulang-peras-keringat saat sudah bergabung dalam sebuah perjuangan. Selama niatan kita baik, apalagi dari awal sudah lillah, percaya deh, apapun masalah loe, loe nggak akan galau, men. Apalagi kalau cuma sekadar gara-gara nggak ada yang bisa “nyemangatin”. Emangnya cheerleader?

Secapek apapun kita, sebanyak apapun hal yang harus kita usahakan, kalau larinya sudah ke Allah, semua masalah BERES! Allah sendiri yang menjamin, kok. Kalau kamu mau berjuang di jalan Allah, Allah yang bantu. Kalau kamu berkeringat kepanasan dan kecapekan karena perjuanganmu, Allah yang ganti dengan pahala. Kalau kamu sampai penat, nyaris putus asa tapi tetap memperjuangkannya, Allah yang jamin, “Surgalah balasanmu.” Nah loh, kurang keren apalagi coba?

Lillah. Bukan li-yang lain. Karena li-yang lain itu nggak akan pernah bisa menjamin lelahmu berpahala. Nggak akan bisa ngasih apa-apa, kecuali rasa senang saat bertemu, dan sedih berkepanjangan saat berpisah. Bahkan, bisa jadi akan membuka pintu bagi syaithan-syaithan terkutuk untuk menodai pikianmu dengan noda membandel, mensugesti pikaranmu untuk terus mengenang saat-saat kebersamaan dengan si dia, menjadikan cinta bermekaran di hati… padahal nggak semua cinta berasal dari Allah, tapi ada juga yang dari nafsu, lho. Wah, bahaya kalau udah begini. Bikin nggak konsen. Apa-apa dibawa susah, dibikin baper alias bawa perasaan. Kan nggak enak kalau kemana-mana yang dipikirin yang nggak ada… yang diharapkan bisa hadir malah lagi sibuk….

Nah, kalau niatannya sudah murni karena Allah, insya Allah, apa-apa jadinya kebawa seneeeng aja. Mau kerja berat ya ayuk, mau sibuk nyari dana ya oke, mau banyak-banyak rapat ya monggo, mau dibawa lembur ya nggak masalah. Kenapa? Karena tujuannya jelas. Karena ada target yang kita kejar. Dan, target itu nggak bakalan pernah mem-PHP kita; Allah SWT.

So, guys. Saya tidak sedang menasihati, apalagi menyindir siapapun. Tangan yang mengetik tulisan ini lebih dekat dengan hati pemiliknya, lebih dekat dengan lisan, mata dan telinga pemiliknya. Jadi, nasihat ini lebih pantas ditujukan kepada saya, terutama. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa tujuan yang jelas akan sangat membantu mengarahkan kemana langkah kita akan menuju. Tujuan yang nggak bikin kecewa, nggak bikin sedih, nggak bakal kasih harapan palsu, cuma ada satu. Itulah yang seharusnya kita tuju untuk perjuangan kita dalam sebuah organisasi. So, semangat Lillah, semangaaatt…!! \(^-^)/

*****

~Untuk teman-teman seperjuanganku, uhibbukum fillah.
            

Minggu, 08 Februari 2015

LUBANG

Kenapa bisa sampai merasakan kekecewaan yang sama? Kenapa rasanya berulangkali diuji dengan cobaan yang sama? Seperti bukan hanya dua kali jatuh di lubang itu lagi, tapi berkali-kali, lagi dan lagi. Bodohkah kita?

Tidak. Kita manusia yang cerdas. Hanya saja, mungkin kita sering lalai, bahwa cobaan terkadang diberikan untuk mengingatkan kita. Supaya kita mengerti, dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sayangnya, keegoisan diri kita sering nembuat kita sadar sejenak saja, lalu setelahnya dilupakan, diabaikan, dianggap tidak pernah terjadi. Hasilnya, berulangkali kita terperosok dan terjungkal di lubang yang itu-itu lagi.
***
Jangan biasakan ngaret. Nggak on time. Banyak ruginya. Gara-gara itu, momen-momen penting jadi terlewat begitu saja. Gara-gara itu, banyak hal penting akhirnya tersia-sia. Terlambat, bahkan akhirnya tidak terlibat sama sekali.
Sekali ngaret, kapok, ngaret lagi. Janji nggak mau ngulang, eh, diulang lagi.

Kalau kamu merasa diuji dengan ujian yang sama, itu artinya, kamu belum lulus di ujian itu.

Berulangkali merasakan kekecewaan karena ketinggalan momen. Itu artinya, Tuhan ingin memberikan pelajaran bagimu, bahwa : tepat waktu itu penting!
So, hargai waktumu, karena ia tidak akan bisa kembali walau sedetik pun. ***

Rabu, 22 Oktober 2014

CERITA PAGI A & B --bloodtype story

Ketika B terlihat santai perihal waktu, bukan berarti dia nggak mikir apa konsekuensi yang harus dihadapinya. Tapi, B itu bisa bergerak dengan cepat. Perhitungannya ringkas dan mantap. Katakanlah, A dan B sama-sama anak kuliahan yang harus berangkat pada pukul 8 pagi. Jam 7 pagi, A sudah mandi, bersih dan wangi, sedangkan B masih ngorok di kamar. Jam 07.30, A nyetrika baju, teriak-teriak ngebangunin B sambil ngedumel, "Kamu kuliah nggak, sih? Jam segini masih tidur aja!" Sambil ngomel, dia sibuk nyetrika sampai selicin-licinnya.

B bangun, lihat jam, udah jam setengah delapan lebih beberapa menit. Turun dari kasur sambil nyeret langkah, ngambil handuk dan perlengkapan mandi. Pas ngelewatin A, diomelin lagi, "Kamu tuh lho, santai banget!"

"Kenapa?"

"Kuliahmu jam delapan, kan? Ini udah jam berapa?"

"Jam berapa emangnya?" (masih sempat-sempatnya nguap dan mematut diri di depan cermin)

"Jam setengah delapan lebih, tauk?! Isy!" si A kesel gara-gara B nggak cepat tanggap buat segera lari ke kamar mandi. Mana udah janjian pula, mau berangkat bareng.

Apa tanggapan si B? Dia cuma nyahut, "Ya udah, sih..."

Ditanggapi begitu, A makin bertekuk aja mukanya.

Si B masuk ke kamar mandi. Suara byar-byur di dalamnya cuma berlangsung selama lima menit. B keluar dengan tampilan yang lebih bersih dan wangi. Sementara itu, A masih saja sibuk nyetrika sambil ngedumel soal tugas-tugas kuliah yang dari semalam belum selesai-selesai.

Lima menit setelah B selesai mandi, B menghampiri A. Penampilannya sudah bersih dan siap berangkat ke kampus. Keduanya mematut diri di depan cermin secara bersebelahan. B ngelirik A, mesam-mesem sambil naik-turunin alis, "Eh, dari tadi belum selesai juga lu?"

A, sambil ngerapihin pakaiannya, menyahut, "Iya, nih... aduuh, sisir mana sisir? Sisir... eeh, sisirku manaa??"

B tertawa dalam hati, 'Hahaa... pagi-pagi udah suntuk aja tuh muka!'

"Eh, kamu nggak nyetrika?" A ngelirik B. Yang dilirik cuma angkat bahu.

"Ngapain disetrika? Udah rapi, kok."

Ajaib. Walau tanpa disetrika, baju si B memang sudah rapi dan wangi. Apa rahasianya?
Di saat waktu sudah mepet begitu, B bisa memilih pakaian mana yang cocok dikenakannya pada hari itu.Yang simpel, nggak banyak lipatan, dan terlihat fine-fine saja walau tanpa disetrika.

Alhasil, pagi itu, A dan B bisa berangkat kuliah bersama-samaaa. :v



Rabu, 10 September 2014

BILA CINTA HARUS DITAHAN


Jatuh cinta sebelum waktunya? Ah, bisa jadi, itu cuma ketertarikan sesaat. Istilah umumnya, kasmaran. Lucu kalau kita langsung menyebut itu jatuh cinta. Bisa jadi sekedar tertarik secara fisik.


Ingat; cinta itu ibarat tanaman. Semakin kau pupuk, semakin tumbuhlah ia. Begitupun sebaliknya; jika kau abaikan, cinta itu akan hilang dengan sendirinya.



Bagaimana menjaga hati supaya tak tergoda mengumbar cinta? Gampang-gampang susah, sih. Tapi, kalau ada niat dan usaha, pasti bisa.



Ada ungkapan bijak yang berbunyi : "Jodohmu, sampai kapan pun nggak akan tertukar." Semua yang Allah ciptakan di muka bumi, selalu ada pasangannya. Kalau sudah tiba waktunya, jodoh itu akan datang atas seizin Allah. So, untuk apa khawatir? Toh pacaran tidak menjamin seseorang akan menikah dengan pacarnya. Toh dengan cari perhatian, belum tentu 'si dia' jadi tertarik. Toh dengan banyak bertingkah, orang yang disukai tidak mesti menoleh dan memberi respon. Betul, kan?



Nah, lalu, apa lagi? Kalau kamu jatuh cinta dan sedang butuh tempat untuk menumpahkan segala perasaanmu, carilah tempat yang paling aman. Singkatnya, pada Allah SWT. Dia Maha Tahu, Maha Mengerti. Panjatkan doamu, bisikkan keluh kesahmu, minta pada-Nya untuk menjauhkanmu dari perasaan 'galau'.



Atau, kamu butuh orang lain untuk jadi tempat curhatmu? Silahkan saja. Carilah teman atau sahabat, atau siapapun yang kamu anggap bisa kamu percaya. Tapi tentunya, dia pun harus bisa membantumu.

Carilah yang bisa menjaga rahasia, memberi masukan, dan mendukungmu untuk belajar menyelesaikan masalah. Bukan yang berkata "Cieee....!" ketika kamu tak sengaja berpapasan dengan 'si dia'. Bukan yang hanya sekedar menikmati cerita, tapi tak memberikan masukan apapun. Menenangkan perasaanmu, bukan berarti ia mendukungmu untuk "meneruskan" perasaanmu, melainkan yang bisa mengajakmu move on demi menghindari konsep cinta yang keliru.



Stay cool. Suatu saat nanti, kalau hal itu bukan murni cinta, perasaan itu perlahan-lahan akan terkikis, dan kamu bisa kembali 'hidup normal'.



Jatuh cinta? Jangan ditulis. Nggak perlu diterusin jadi status FB. Entah itu tentang kamu yang papasan sama dia, dapat senyumnya dia, ketemu momen yang bikin kamu bisa lebih sering ngeliatin dia... Jangan ditulis. Apalagi sampai kamu simpan tulisan itu. Nanti susah dilupakan. Kalau toh mau menulis sekadar untuk menumpahkan unek-unek, habis itu, abaikan saja tulisanmu. Nggak perlu diawetkan, nanti bingung gimana ngelupainnya.



Kasmaran itu bukan cinta. :) Cinta itu, ketika kamu dan "dia" telah benar-benar terikat dalam ikatan pernikahan. Kalau sudah begitu, boleh deeh... Halal deh... ^_^ Dengan begini, hatimu akan tetap terjaga dan nggak perlu berurusan dengan "seseorang dari masa lalu". Menunggu itu lebih mudah daripada melupakan. Jadi, selama masa itu belum tiba, silakan memperbaiki akhlak dan pribadi kita.

Jika kamu sedang belajar untuk memperbaiki diri, percayalah, pasanganmu juga tengah mempersiapkan diri untuk menjadi yang terbaik  bagi dirimu kelak. Kalian akan cocok! :))


_______________________


Minggu, 07 September 2014

BERIKAN DAN LUPAKAN

 "Berikan dan Lupakan!"
Seperti diingatkan kembali. Ketika menjadi ATS (Alumni Training Support) di acara Training ESQ di UMK, 6-7 September 2014 lalu, saya jadi ingat, dulu pun, saya pernah diajarkan tentang indahnya berbagi. Betapa nikmatnya ketika kita bisa ikhlas memberi bantuan, menolong sesama, entah itu dalam bentuk benda maupun tenaga. Luar biasa puasnya ketika kita mampu membuat orang lain tersenyum karena bebannya diringankan.


"Tangan yang seringan angin", begitulah dosen saya memberikan deskripsi tentang kedermawanan sosok Nabi Muhammad SAW. Rasul yang mengajarkan tentang indahnya bersedekah, membantu sesama. Membuat kita tahu bahwa kebahagiaan memberi adalah lebih besar daripada kebahagiaan menerima. Karena memberi adalah pilihan; apakah ingin memberikan sedikit, sebagian, atau malah seluruhnya? Sedangkan menerima adalah mendapatkan sesuatu yang dipasrahkan orang lain; tidak dapat ditentukan apakah kita akan menerima banyak atau sedikit. Bisa jadi, orang yang menerima sedikit akan mengeluh kesal karena mengharapkan pemberian yang lebih banyak lagi.



Pengalaman kerap mengajarkan saya tentang makna berbagi. Pernah suatu ketika, saya mengikuti seminar yang dipelopori oleh Fosma Jateng dan ESQ 165, di Hotel Grasia, Semarang. Kak Yus Ibnu Yasin selaku trainer dalam acara tersebut, memandu para peserta untuk mengambil sepatu masing-masing. Lantas, kami diminta duduk secara berpasangan.



Kami diberi amplop yang berisi selembar tissu. Kata Kak Yasin, "Sekarang, silahkan kalian bertukar sepatu, dan semir sepatu teman kalian sampai bersih!"



Kami menyambut permintaan itu dengan dengungan tak percaya bercampur tawa. Tapi, semuanya menurut saja. Dengan tissu tersebut, kami asyik "menyemir" sambil terus menahan tawa dan menciptakan obrolan dengan kawan-kawan. Usai riuh dengan kegiatan tersebut, Kak Yasin meminta kami berhenti dan beliau sendiri meneruskan bicaranya.



"Nah, teman kalian kan sudah berbaik hati menyemirkan sepatu kalian... Sekarang, kalian bisa membalas kebaikan teman kalian itu. Caranya? Silahkan amplop yang tadi dibagikan, kalian isi dengan uang, berapapun. Berikan kepada teman kalian itu sebagai tanda terima kasih."



Yah, jadilah kami semua merogoh saku masing-masing dan menyisipkan lembaran rupiah ke dalam amplop, kemudian saling menukarkannya. Tidak ada yang memberi tahu, apakah ia memasukkan uang seribu, lima ribu, sepuluh ribu, atau bahkan lebih dari limapuluh ribu.



Kata Kak Yasin, "Apa yang kalian rasakan ketika menyemir sepatu teman kalian? Senang atau sedih?"



Semua peserta kompak menjawab, "Senaang...!"



Beliau tersenyum dan menarik kesimpulan, "Itulah nikmatnya berbagi. Ketika mampu memberi dengan kerelaan hati, kita akan merasa senang, bukan malah terbebani." Kak Yasin melanjutkan kata-katanya yang membuat kami semakin paham tentang makna berbagi. Benar, tidak ada yang merasa terbebani, ketika pemberian yang kita ulurkan memang dilandaskan pada niat yang ikhlas. Maka, ketika kak Yasin menawarkan satu kesempatan lain bersedekah dengan mengatakan, "Setuju tidak, jika uang dalam amplop tersebut kita sumbangkan untuk kegiatan sosial?" Semua langsung menjawab, "Setujuuu...!!" dengan penuh semangat. Amplop dikumpulkan dan semuanya dipasrahkan kepada kakak-kakak ATS untuk diteruskan kepada pihak yang lebih membutuhkan.



Berbagi memang tidak harus dengan banyak uang. Sedekah bukan berarti selalu pakai rupiah. Dengan tenaga pun, kita bisa berjasa untuk orang lain. Walau tidak banyak, uang receh yang kita punya bisa bernilai pahala jika kita ikhlas mensedekahkannya. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak berbagi.



Berikan dan lupakan. Banyak-banyaklah memberi, tanpa perlu mengungkit-ungkitnya lagi. Itulah yang Islam ajarkan. :)



"... Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rizki yang terbaik."  (Q.S. Saba' : 39)



"Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya)bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia." (Q.S. Al-Hadid : 18)


______________________

MASIH PERCAYA AJA SAMA WRITER'S BLOCK??


Tiba-tiba jadi kehilangan bahan untuk dituliskan. Padahal beberapa hari yang lalu, belasan ide bertebaran di kepala, siap dituangkan. Sekarang, kembali terjebak dalam zona writer's block.

Terlalu fokus pada proses editing akan membuat kita kesulitan untuk menulis. Padahal, proses editing adalah proses yang terakhir. Tidak harus kita lakukan langsung ketika selesai menuliskan bahan. Proses ini bahkan bisa kita lakukan setelah lewat beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan. Butuh waktu untuk mengendapkan tulisan, untuk membuat kita "lupa", apa saja yang telah kita tuliskan. Dengan begitu, ketika kita mengedit, kita akan mampu menilai secara lebih objektif. Bacalah dengan pikiran yang "kosong", sehingga tidak terganggu dengan ingatan, "Oh, setelah ini akan ada kalimat yang bunyinya begini dan begini."....

Jangan terlalu fokus pada perbaikan kalimat. Tuliskan saja idemu. Tuangkan dalam bentuk rangkaian kata-kata sehingga membentuk banyak paragraf. Acuhkan persepsi 'jelek', 'tulilsan yang buruk', 'tidak enak dibaca', dan sebagainya. Bukankah gunanya menulis adalah supaya pikiranmu menjadi plong? Menumpahkan segala ide yang jika hanya dibiarkan, hanya akan menumpuk dan memusingkan kepala.

Menulis itu supaya hatimu senang, pikiranmu tenang. Maka, buang saja semuanya lewat goresan penamu, lewat ketikan keyboard-mu. Buang, muntahkan, tumpahkan. Tidak peduli seberapa jelek jadinya ia. Kan, yang penting perasaanmu jadi lebih plong. Apalagi yang lebih menyenangkan daripada itu?

Lihat? Kalau kamu bisa mengacuhkan rasa takutmu, inilah yang terjadi. Kamu telah berhasil menulis. Lihat, bukan hanya satu-dua paragraf. Kamu bisa menuliskannya lebih banyak lagi jika pikiranmu belum benar-benar "bersih". Tapi kali ini, rasanya cukup sekian dulu. Lain kali, bolehlah dicoba lagi.
_____________________

EMOSI? LARILAH PADA DUA HAL INI

Mengelola emosi memang menjadi perkara yang susah-susah gampang. Apalagi, kalau hal-hal di sekitar kita malah membuat "panas" situasi. Lagi sibuk, diganggu. Lagi capek, diusik. Lagi santai, dirusuhin. Nggak salah apa-apa, dimarahin. Siapa coba yang nggak emosi?

Memang benar apa yang dikatakan oleh Aristoteles: "Siapapun bisa marah-marah, itu mudah. Tetapi, marah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang pas demi tujuan yang benar dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah." (Dikutip dari buku berjudul Be New You!! Jurus Biar Nggak Jadi 'Jutek' karya Izzatul Jannah)

Nggak bisa dipungkiri, kalau emosi sudah terpancing, rasanya enteng saja membentak-bentak. Gampang berkata kasar. Kesenggol dikit, melotot. Kena sindir dikit, pengen nonjok. Temannya sedang khilaf, dikata-katai. Yahh... sabar, Bu'...




Apa yang biasanya dilakukan kalau emosi kita sedang tidak stabil? Yaa, tergantung orangnya. Ada yang sekali singgung langsung "meledak", ada yang mbatin, ada yang lantas ngomongin di belakang, ada juga yang cuma diam dan lebih memilih untuk tidak membalas. Tingkat kecerdasan emosi masing-masing orang tentu berbeda. Mana yang paling baik? Ya tentu saja yang berusaha semampu mungkin untuk meredam emosinya. Sebab kata Rasul, "Laa taghdhob walakan jannah." Janganlah marah, bagimu surga.

Nggak nyangkal sih, saya juga sering terpancing emosi, walaupun terhadap hal-hal yang cukup sepele. Memang susah mengatur amarah di saat situasi sudah sangat mendukung untuk hal itu. Kalau pengen marah, marah aja. Ketika sedang emosi, salah satu pelampiasan yang ingin saya lakukan adalah BERTERIAK! Teriak sekencang mungkin sampai perasaan tak enak itu pergi jauh dan tidak kembali.

Tapi nyatanya, saya tidak banyak bertindak. Saya lebih memilih untuk diam. Dimarahi padahal nggak salah, saya cuek. Dimarahi padahal ada kesempatan membela diri, saya berpaling. Kenapa? Takut?

Malas debat saja. Saya nggak suka dengan teriakan-teriakan amarah. Saya sebel lihat orang sampai segitu meledaknya cuma gara-gara secuil masalah. Nggak enak lihat orang melotot sambil meninggikan nada bicara. Kalau dia marah gara-gara saya, oke, saya yang akan introspeksi diri. Kalau dia marah tanpa sebab yang jelas, terserah. Saya lebih memilih pergi dan mengabaikan omelan-omelannya.


Kalau toh saya butuh pelarian untuk melampiaskan kekesalan saya, saya lebih memilih untuk percaya pada Allah dan pada buku tulis. Percaya pada Allah, artinya, cukup dengan berdoa, menangis, meminta, atau menumpahkan unek-unek saya kepada Dia Yang Maha Mendengar. Tempat curhat yang paling aman dan menentramkan, siapa lagi kalau bukan Tuhan? Percaya pada buku, artinya, saya cukup menumpahkan emosi saya lewat tulisan tangan dan membacanya untuk diri saya sendiri. Cara ini cukup menentramkan perasaan saya. Beberapa masa kemudian, ketika saya telah berhasil melalui masa-masa menyebalkan itu, saya bisa tersenyum kembali, mengingat betapa "lucu" dan kekanak-kanakannya saya dalam menghadapi masalah tersebut.

Saya cukup santai dengan masalah. Mungkin lebih tepatnya, saya bukan tipikal orang yang pandai menceritakan masalah. Lisan saya kadang kesulitan merangkai kata, kurang fasih mengungkap emosi dan kata hati. Cukup dengan diam dan bicaralah pada Tuhan. Pada Allah SWT.


_________________